Hadits Shohih

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

Hadis mutawatir memberikan faedah “yaqin bi’-qath’i” (positif–positifnya), bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan iqrar (persetujuan)nya di hadapan para sahabat, berdasarkan sumber-sumber yang banyak sekali, yang mustahil mereka sama-sama mengadakan kesepakatan untuk berdusta. Oleh karena sumber-sumbernya sudah menyakinkan akan kebenarannya, maka tidak perlu diperiksa dan diselidiki dengan mendalam. Berlainan dengan hadis ahad, yang memberikan faedah “dhanny” (prasangka yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kepada kita untuk mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan yang seksama, di samping keharusan mengadakan penyelidikan mengenai segi-segi lain, agar hadis ahad tersebut dapat diterima sebagai hujjah atau ditolak, bila ternyata terdapat cacat-cacat yang menyebabkan penolakan. Dari segi ini, hadis ahad terbagi menjadi tiga bagian, yaitu hadis shahih, hasan, dan dha’if. Jadi makalah ini mencoba membahas sedikitnya lebih lanjut  tentang hadis shahih.

 BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Pengertian Hadis Shahih

Shahih menurut bahasa berarti “sehat”, sedang menurut istilah ialah hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tidak syadz dan tidak pula terdapat billat (cacat) yang merusak.[1] Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar, yang dimaksud dengan “hadis shahih adalah hadis yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak janggal”.[2]

Pendapat lain mengatakan, hadis shahih adalah “hadis yang muttashil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil dan dhabith (kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya, selamat dari kejanggalan (syadzdz) dan cacat (‘illat)”.[3]

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa hadis shahih adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dengan sanadnya yang bersambung dan mempunyai daya ingat yang kuat atau sempurna serta tidak terdapat cacat yang dapat merusak keshahihan suatu hadis.

B.     Syarat-syarat Hadis Shahih

Para ahli hadis seperti Ibnu Ash-Shalah (w.643/1245), An-Nawawi, (w.676/1277), Ibnu Katsir (w.774), Ibnu Hajar Al-ASqalani (w. 852/1449), Jalal Ad-Din AS-Suyuthi (w. 911/1505) dan lain-lain telah mengajukan definisi yang mereka ajukan mewakili apa yang (diduga) telah diterapkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Definisinya dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) kesinambungan periwayatan, (b) rawi-rawinya adil, (c) rawi-rawinya sempurna kedhabitannya, (d) isnad dan matan harus bebas dari kejanggalan (syadzdz), (e) isnad dan matan harus bebas dari cacat (‘Illah). Semua syarat ini akan diuraikan secara kritis berikut ini.

  1. Kesinambungan periwayatan

Bahwa kesinambungan jalur periwayatan berarti semua perawi dalam jalur periwayatan dari awal (mukharijj) sampai akhir (sahabat) telah meriwayatkan hadis dengan cara yang dapat dipercaya menurut konsep tahammul wa ada’ al hadis. Maksudnya, “setiap perawai dalam jalur periwayatan telah meriwayatkan hadis tertentu langsung dari perawi sebelumnya dan semua perawi adalah tsiqah, yakni ‘adl (adil) dan dhabith (kuat ingatan)”.[4]

  1. Rawi-rawinya adil

Adil adalah perangai yang senantiasa menunjukkan pribadi yang yaqwa dan muru’ah (menjauhkan diri dari sifat atau tingkah laku yang tidak pantas untuk dilakukan). Yang dimaksud adil disini ialah adil dalam hal meriwayatkan hadis, yaitu orang Islam yang miskallah (cakap bertindak hukum) yang selamat dari fasiq, gila dan orang yang tidak pernah dikenal, tidak termasuk orang yang adil, sedangkan orang perempuan budak, dan anak yang sudah baligh biasa digolongkan orang yang adil apabila memenuhi kriteria tersebut.

  1.  Rawi-rawinya sempurna kedhabitannya

Yang dimaksud sempurna ke-dhabit-annya ialah ke-dhabit-an pada tingkat yang tinggi, artinya bahwa ingatannya lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya lebih banyak daripada kesalahannya. Kalau seseorang mempunyai ingatan yang kuat, sejak dari menerima sampai kepada menyampaikannya kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja dikehendaki, disebut orang yang dhabithu’sh-shadri.[5]

Dalam hal ini dhabit ada dua macam, yaitu:

  1. Dhabit hati. Seseorang dikatakan dhabit hati apabila dia mampu menghafal setiap hadis yang didengarnya dan sewaktu –waktu dia bisa mengutarakan atau menyampaikannya.
  2. Dhabit kitab. Seseorang dikatakan dhabit kitab apabila setiap hadis yang dia riwayatkan tertulis dalam kitabnya yang sudah ditashih (dicek kebenarannya) dan selalu dijaga.[6]

 

  1.  Bebas dari Syadzudz

Syadzudz disini ialah hadis yang diriwayatkan oleh seseorang rawi yang terpercaya, itu tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang tingkat dipercayanya lebih tinggi.[7]

Dalam karangan Dr. Phil Komaruddin Amin, MA, hadis syadzudz, menurut Asy-Syafi’i adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, tetapi bertentangan dengan hadis riwayat orang-orang yang dianggap lebih dapat dipercaya darinya.[8] Sebuah hadis diriwayatkan hanya oleh satu perawi yang dipercaya dan tidak didukung oleh perawi-perawi yang lain, tidak dapat dianggap hadis syadzudz. Dengan kata lain, “perawi tunggal” (faid muthlaq) tidak mempengaruhi keterpercayaan hadis sepanjang hadis tersebut diriwayatkan oleh perawi yang dapat dipercaya.

  1. Bebas dari ‘illat

Hadis ma’lul atau cacat adalah hadis yang tampak shahih pada pandangan pertama, tetapi ketika dipelajari secara seksama dan hati-hati ditemukan faktor-faktor yang dapat membatalkan keshahihannya.[9] Faktor tersebut misalnya, seorang perawi meriwayatkan sebuah hadis dari seseorang guru, padahal kenyataannya ia tidak pernah bertemu dengannya, atau menyadarkan sebuah hadis kepada sahabat tertentu, padahal sebenarnya berasal dari shabat lain.[10]Illat disini ialah cacat yang samar yang mengakibatkan hadis tersebut tidak dapat diterima.

C.    Macam-macam Hadis Shahih

Hadis shahih dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :

  1. Shahih lidzatih (shahih dengan sendirinya), karena telah memenuhi 5 kriteria hadis shahih sebagaimana definisi, contoh, dan keterangan di atas.
  2. Shahih lighayrih (shahih karena yang lain), yaitu:

هُوَ الْحَسَنُ لِذَاتِهِ إِذَا رُوِيَ مِنْ طَرِيْقٍ اَخَرَ مِثْلُهُ أَوْ أَقْوَى مِنْهُ

“Hadis shahih lighayrih adalah hadis hasan lidzathi ketika ada periwayatan melalui jalan lain yang sama atau lebih kuat dari padanya”.[11]

Jadi hadis shahih lighayrih, semestinya sedikit tidak memenuhi persyaratan hadis shahih ia baru sampai tingkat hadis hasan, karena di antara perawi ada yang kurang sedikit hapalannya dibandingkan dalam hadis shahih, tetapi karena diperkuat dengan jalan/sanad lain, maka naik menjadi shahih li ghayrih (shahih-nya karena yang lain). Kualitas sanad lain terkadang sama-sama hasan atau lebih kuat lagi yakni shahih.

Contoh, hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi melalui jalan Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةِ

Seandainya aku tidak khawir memberatkan atas umatku, tentu aku perintah mereka bersiwak ketika setiap shalat”.[12]

Hadis di atas berkualitas hasan lidzatih, karena semua perawinya bersifat tsiqah (adil dhabith) selain Muhammad bin Amr, ia bertitel: shaduq (banyak benarnya). Tetapi hadis ini mempunyai jalan lain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim melalui jalan Abu Az-Zanad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah. Maka hadis di atas kualitasnya dapat naik menjadi shahih lighayrih.

 

  1. D.    Hukum-hukum Hadis Shahih

Adapun hukum-hukum hadis shahih adalah sebagai beirkut:

a.       Berakibat kepastian hukum. Hal ini apabila hadis tersebut terdapat pada shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pendapat yang dipilih dan dibenarkan oleh Ibnu Al-Shalah.

b.      Imperatif diamalkan. Menurut Ibnu Hajar dalam kitab syarah Al-Nuhbah, wajib mengamalkan setiap hadis yang shahih, meskipun hadis dimaksud tidak termasuk yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

c.       Imperatif untuk menerimanya. Menurut Al-Qasim dalam kitab qawa’idu Al-Thadis, bahwa wajib menerima hadis shahih walaupun hadis shahih itu tidak pernah diamalkan oleh seorang pun.

d.      Imperatif segera diamalkan tanpa menunggu sampai adanya dalil yang bertentangan. Menurut Syekh Al-Fallani di dalam kitab Liqaadzu Al-Himami, bahwa mengamalkan hadis shahih tidak usah menunggu mengetahui tidak adanya sanasikh (hadis lain yang menganulir), atau tidak adanya ijma’ atau dalil-dalil lain yang bertentangan dengan hadis itu. Akan tetapi, harus segera diamalkan sampai benar-benar diketahui adanya dalil-dalil yang bertentangan dengannya dan kalau toh ada maka harus diadakan penelitian terlebih dahulu.

e.       Hadis shahih tidak membahayakan. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Ighaatsatu Al-Lahfan, bahwa hadis shahih walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja, tidak membahayakan, yakni tidak mengurangi kadar keshahihannya

f.       Tidak harus diriwayatkan oleh orang  banyak. Hadis yang shahih tidak pasti diriwayatkan oleh orang banyak, sebagai dasarnya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Muadz yang berbunyi sebagai berikut:

مَا مِنْ اََدٍ يَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ اِلاَّ حَرَّمَهُالله ُ عَلَ النَّارِ فَقَالَ مُعَاذُ: يَارُسُوْلُ اللهِ اَفَلاَ أُخْبِرُبِهِ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ صلعم اِذَا يَتَكَّلُوا فَأَخْبَرَ هُمْ مُعَاذُ عِنْدَ مَوْتِهِ

“Tidak seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali Allah mengharamkanya masuk neraka. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya hadis ini aku beritahukan kepada orang-orang supaya mereka bergembira?” Nabi saw menjawab,” Hadis tersebut baru di ceritakan kepada orang-orang oleh Mu’adz menjelang wafatnya karena takut berdosa jika tidak mengamalkannya.[13]

 

Imam Bukhari meriwayatkan secara ta’liq dari sahabat Ali ra:

حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَغْرِفُونَ اَتُحَبُّوْ اَنَ  يُكَذَّبَ الله ُ وَرَسُولُهُ

Ceritakanlah (hadis) kepada orang-orang sesuai dengan pengetahuannya, apakah kalian senang, Allah dan RasulNya didustakan?”[14]

 

Ibnu Mas’ud juga berkata :

مَااَنْتَ مُحَدِّثٌ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تِبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ اِلاَّ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ (رواه مسلم)

Engkau tidak boleh menceritakan kepada suatu kaum sesuatu hadis yang tidak terjangkau oleh akal mereka, melainkan hanya akan menimbulkan fitnah di antara mereka,” (HR.Muslim).[15]

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, di antara ulama yang tidak suka menceritakan hadis secara sepotong-sepotong dengan maksud-maksud tertentu, di antaranya untuk menghindari kewajiban-kewajiban atau menghilangkan hukum-hukum, tindakannya itu akan menimbulkan kerusakan dunia dan akhirat. Bagaimana mereka sampai bida berbuat demikian, padahal semestinya semakin giat pula ibadahnya. Seperti halnya ketika Nabi saw ditanya, “Mengapa engkau selalu Qiyaamu Al-Lail padahal Allah SWT telah memaafkan engkau? Kontan Nabi saw menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

E.     Pembagian dan Tingkatan-tingkatan Hadis Shahih

Derajat hadis shahih itu bertingkat-tingkat sebab bertingkat-tingkat sifat adil, dhabit, dan sifat-sifat lain yang menjadi syarat-syarat keshahihanya. Apabila rawi-rawi hadis shahih itu mempunyai sifat dhabit, adil, dan sifat-sifat lain yang menjadi sifat keshahihannya tinggi, maka hadis itu lebih shahih tingkatannya. Itulah sebabnya ulama Syakh Abdullah bin Ibrahim Al-Alawi menghimpun tingkatan-tingkatan hadis shahih didalam nadham kitabnya yang berjudul Thal’afu Al-Anwar, sebagai berikut:

اَعْلَى الصَّحِيْحِ مَاعَلَيْهِ اِتِّفَاقَا               فَمَا رَوَى الجُعْفِيُّ فَرْدًا يُنْتَقَى

فَمُسْلِمٌ كَذَا لِكَ فِى الشَّرْطِ عُرِف          فَمَالِشَرْطِ غَيْرِذَيْبِ يَكْتَنِفَ

Setinggi-tinggi hadis shahih ialah yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim, lalu yang bersih diriwayatkan oleh Al-Ju’fi (Al-Bukhari) seorang diri, kemudian yang diriwayatkan oleh Muslim dalam syarat yang diketahui adalah seperti itu, selanjutnya yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini dengan melingkupi syarat-syarat selain dari syarat-syarat keduanya.[16]

 

Dari nadham di atas dapat dipahami tingkatan keshahihan dari suatu hadis dari yang tertinggi sampai dengan tingkat yang terendah, yaitu sebagai berikut :

  • Hadis shahih yang paling tinggi derajatnya ialah yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim, yaitu menempati tingkatan hadis shahih yang pertama.
  • Kemudian hadis shahih yang diriwayatkan oleh Al-Ju’fi (Al-Bukhari) saja menempati tingkatan hadis shahih yang kedua.
  • Dan hadis shahih yang diriwayatkan oleh Muslim saja menempati tingkatan hadis shahih yang ketiga.
  • Lalu hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Al-Bukhari dan Muslim, menempati tingkatan hadis shahih yang keempat.
  • Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Al-Bukhari, menempati tingkatan hadis shahih yang kelima.
  • Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Muslim, menempati tingkatan hadis shahih yang keenam.
  • Selanjutnya hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim), yang melingkupi syarat-syarat keshahihan selain dari syarat-syarat keduanya, menempati tingkatan hadis shahih yang ketujuh.[17]
    F.     Kitab-Kitab Shahih

Kitab-kitab hadis shahih adalah sebagai berikut:

  1. Shahih Al-Bukhari (w. 250 H), pertama kali penghimpun khusus hadis shahih. Di dalamnya terdapat 7.275 hadis termasuk yang terulang-ulang, atau 4.000 hadis tanpa terulang-ulang.
  2. Shahih Muslim (w. 261), di dalamnya terdapat 12.000 hadis termasuk yang terulang-ulang atau sekitar 4.000 hadis tanpa terulang-ulang. Secara umum hadis Al-Bukhari lebih shahih dari pada shahih Muslim, karena persyaratan shahih Al-Bukhari lebih ketat muttashil dan tsiqahnya sanad di samping terdapat kajian fikih yang tidak terdapat dalam shahih Muslim.
  3. Shahih Ibn Khuzaymah (w. 311 H)
  4. Shahih Ibn Hibban (w. 354 H)
  5. Mustadrak Al-Hakim (w. 405 H)
  6. Shahih Ibn As-Sakan
  7. Shahih Al-Albani.[18]

 

BAB III

PENUTUPAN

A.    Simpulan

Pembahasan makalah ini, hadis shahih menjelaskan hadis yang sesuai dengan syarat-syarat yang sudah di tentukan, berbagai hukum-hukum hadis shahih menimbulkan ketertiban dalam menanganinya, adanya pembagian dan tingkatan-tingkatan hadis shahih dapat membantu mengetahui kekuatan dan  kelemahan dalam hadis tersebut.

B.   Penutup

Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini, penulis berharap semoga bermanfaat bagi kita. Saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan selanjutnya, tak lupa di ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Madjid Khon, Ulumul Hadis, Hamzah, Jakarta, 2009

Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari,  Matan al-Bukhari bihasyiah as-Sindi, Jilid II

Al-Hafidz Ibnu Hajar, Nukhbatul Fikar, Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992 M

Fatchur Rahman, Mushthalahul Hadis, PT. Alma’arif –Penerbit-Percetakan Offset, Yogyakarta, 1970.

Kamaruddin Amin, Metodologi Para Ahli Hadis Klasik, PT. Mizan Publika, Jakarta, 2009

Mahmud ath-Thahhan, Taisir Mushalah al-Hadits, Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyah, Beirut, t.t

Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits; ‘Ulumuh wa Musthalahuh, Dar al-Fikr, Beirut, 1989 M/1409 H

Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009.

Muhammad ash-Shabbaq, Al-Hadits an-Nabawi; Mushthalahuh Balagatuh, ‘Ulumuh, Khutub, Mansyurat al-Maktab al-Islami, t.t., 1392H/1972M

Muslim, Abu al-Husain bin al Hajjaj  al-Qusyairi an Naisaburi, Shahih Muslim,Jilid I,  Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992

Syaikh Manna Al-Qaththan,, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Terj. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2005

 


[1] Muhammad Alawi Al-Maliki., Ilmu Ushul Hadis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009. h. 52

[2]Al-Hafidz Ibnu Hajar, Nukhbatul Fikar, Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992 M, h. 73

 

[3]Abdul Madjid Khon, Ulumul Hadis, Hamzah, Jakarta, 2009, h. 149

[4] Kamaruddin Amin, Metodologi Para Ahli Hadis Klasik, PT. Mizan Publika, Jakarta, 2009., h. 21

[5]Ibid

[6] Muhammad Alawi Al-Maliki, op.cit, h. 53

[7]Ibid,

[8]Kamaruddin Amin, op.cit., h. 26

[9]Ibid

[10]Ibid, h. 34

[11]Abdul Madjid Khon, op.cit., h. 155

[12]ibid

[13] Muhammad Alawi Al-Maliki, op.cit, h. 54

 [14]Ibid, h.55

[15]Ibid, h. 56, lihat Muslim, Abu al-Husain bin al Hajjaj  al-Qusyairi an Naisaburi, Shahih Muslim,Jilid I,  Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992

[16]Ibid, h. 58

[17]Ibid, h. 58-59, lihat juga Abdul Madjid Khon, Ulumul Hadis,  h. 157-158

[18]Abdul Madjid Khon, op.cit, h. 158-159

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s