Hadits Ahad

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

Hadis dan Sunnah, baik secara struktural maupun fungsional disepakati oleh mayoritas kaum muslimin dari berbagai mazhab Islam sebagai sumber ajaran Islam, karena dengan adanya hadis dan sunnah itulah ajaran Islam menjadi jelas, rinci dan spesifik. Sepanjang sejarahnya, hadis-hadis yang tercantum dalam berbagai kitab hadis yang ada berasal melalui proses penelitian ilmiah yang rumit, sehingga menghasilkan kualitas hadis yang diinginkan oleh para penghimpunnya. Implikasinya, telah terdapat berbagai macam kitab hadis yang sering kali dijumpai keaneka ragaman redaksi (matan hadis) dan sanadnya, karena diantara kolektor hadis tersebut memakai kriteria dan standar masing-masing. Disinilah letak pentingnya pembelajaran hadis agar dapat diketahui bagaimana hadis tersebut diteliti dan lebih dari itu bagaimana meneliti sehingga dapat diketahui tata cara dengan benar pemakaian hadis sebagai dasar amalan.

Jadi dengan adanya studi hadis, umat Islam dapat mengetahui hadis yang Shahih, Hasan, Dlaif dan hadis-hadis palsu. Sebab tidak semua hadis itu boleh diamalkan dan dijadikan sebagai dasar hukum yang baik. Setelah Nabi wafat, banyak orang-orang yang membuat hadis-hadis palsu untuk kepentingan golongannya atau untuk menjatuhkan penguasa. Artinya hadis-hadis diciptakan untuk kepentingan politik semata.

Dengan adanya studi hadis, umat dengan mudah mendapatkan hadis-hadis yang diperlukan sebagai sumber hukum yang sah setelah Al-Qur’an. Begitu juga umat Islam dengan mudah membedakan antara lafaz Al-Quran dengan lafaz hadis, karena sering sekali terjadi akhir-akhir ini yang hadis dikatakan Al-Quran, sebaliknya Al-Quran disebut hadis.

Dalam makalah studi hadis ini penulis akan membahas Hadis Ahad, yang diawali dari pengertian hadis ahad, macam-macam hadis ahad dan contohnya, pendapat ulama tentang hadis ahad dan analisis historis kemunculannya.  Semoga makalah ini bermanfaat buat diri penulis sendiri dan pembaca pada umumnya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Pengertian Hadis Ahad

Kata ahad berarti satu, khabar al-wahid adalah suatu berita yang disampaikan oleh satu orang.[1] Menurut istilah ilmu hadis, hadis ahad berarti “Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis mutawatir.”[2]

Ulama lain mendefinisikannya dengan “hadis yang sanadnya shahih dan bersambung hingga sampai kepada sumbernya (Nabi SAW), tetapi kandungannya memberikan pengertian zhanni dan tidak sampai kepada qat’i atau yakin”.[3]

Dari dua definisi di atas ada dua hal yang harus digaris bawahi yaitu: pertama, dari sudut kuantitas perawinya, hadis ahad berarti berada di bawah kuantitas hadis mutawatir, kedua, dari sudut isinya, hadis ahad memberi faedah zhanni bukan qat’i. kedua hal inilah yang membedakannya dengan hadis mutawatir.

Kedua definisi di atas dikemukakan oleh para ulama yang membagi kuantitas hadis kepada dua, yaitu mutawatir dan ahad. Sedangkan ulama yang membagi kuantitas hadis kepada tiga, yaitu mutawatir, masyhur, dan ahad, memberikan definisi hadis ahad dengan definisi yang berbeda. Menurut mereka, hadis ahad itu, ialah :

ما رواه الواحد أوالإثنان فأكثر مما لم تتوفر فيه شروط المشهور او المتو اتر

Hadis yang diriwayatkan oleh satu orang, atau dua orang, atau lebih, yang jumlahnya tidak memenuhi persyaratan hadis masyhur, atau hadis mutawatir”.[4]

B.     Macam-macam Hadis Ahad dan Contohnya

Pembagian hadis ahad ada tiga macam, yaitu hadis masyhur, aziz dan gharib.

1.    Hadis Masyhur

Kata masyhur dari kata syahara, yasyharu, syahran, yang berarti al-ma’ruf baina an-nas (yang terkenal, atau yang dikenal, atau yang populer di kalangan sesama manusia). Dengan arti kata di atas, maka kata “hadis masyhur”, berarti hadis yang terkenal. Berdasarkan arti kata ini, di antara ulama ada yang memasukan ke dalam hadis masyhur “segala hadis yang populer dalam masyarakat, meskipun tidak mempunyai sanad sama sekali, dengan tanpa membedakan apakah memenuhi kualitas shahih atau dha’if”.[5]

Kata masyhur ini secara bahasa telah diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan utuh. Dalam penggunaannya sehari-hari, baik dalam ragam tulis maupun ragam lisan, kata ini digunakan secara baku.

Berdasarkan pendekatan kebahasaan seperti di atas, maka dikalangan para ulama terdapat beberapa macam hadis yang terkenal di kalangan ulama tertentu. Tanpa memperhatikan apakah jumlah kuantitas sanadnya memenuhi syarat kemasyhurannya atau tidak, misalnya hadis yang berbunyi :

 

نَهَى رَسُوْلُ الله ص م عَنْ بَيْعِ الْغَرَر (رواه المسلم )

“Rasulullah SAW melarang jual-beli yang di dalamny;a terdapat tipu daya”.[6]

Hadis di atas terkenal dikalangan ulama fiqih. Demikian pula hadis yang menjelaskan, bahwa perceraian itu dibenci Allah SWT meskipun hukumnya halal. Hadis ini juga terkenal di kalangan ahli fiqh, yang padahal di kalangan ahli hadis, kualitasnya diperselisihkan.

Ada juga hadis yang terkenal dikalangan ulama, seperti hadis yang berbunyi :

اَلْمُسْلِمُ مِنْ سَلَمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهَ وَ يَدِهِ

Orang Islam (yang sempurna) itu, ialah orang yang jika orang Islam lainnya selamat dari (gangguan) lidah dan tangannya.[7]

Secara terminologis, hadis masyhur didefinisikan oleh para ulama dengan beberapa definisi yang agak berbeda-beda, sebagaimana dibawah ini.

Menurut satu definisi, disebutkan sebagai berikut:

 ما له طرق محصورة بأكثر من إثنين ولم يبلغ حد التواتر

“Hadis yang mempunyai jalan yang terhingga, tetapi lebih dari dua jalan dan tidak sampai kepada batas hadis yang mutawatir.” [8]

Menurut definisi lain, disebutkan:

خبر جماعة لم يبلغوا في الكثرة مبلغ جماعة المتواتر

Hadis yang disampaikan oleh orang banyak, akan tetapi jumlahnya tidak sebanyak perawi mutawatir”.[9]

Ada juga yang mendefinisikan, bahwa hadis masyhur itu ialah “hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih. Meskipun perawi sejumlah itu hanya pada satu thabaqah saja, sementara perawi pada thabaqah-thabaqah lainnya berjumlah lebih banyak”.[10]

Dari ketiga definisi di atas dapat dikatakan, bahwa perawi hadis masyhur jumlahnya dibawah hadis mutawatir. Artinya, jumlah perawi pada hadis ini banyak, akan tetapi dari jumlah tersebut belum sampai memberikan faidah ilmu dharuri, sehingga kedudukan hadisnya menjadi zhanni. Hadis ini dinamakan masyhur karena telah tersebar luas kalangan masyarakat.

Ulama Hanafiyah mengatakan, bahwa hadis masyhur menghasilkan ketenangan hati, dekat kepada keyakinan dan wajib diamalkan, akan tetapi bagi yang menolaknya tidak dikatakan kafir.

Dari sudut kualitasnya, hadis masyhur ada yang shahih, ada yang hasan, dan ada yang dha’if. Hadis masyhur yang shahih, artinya hadis masyhur yang memenuhi syarat-syarat ke-shahih-annya; Hadis masyhur yang hasan, artinya hadis masyhur yang kualitas perawinya di bawah hadis masyhur yang shahih; sedang hadis masyhur yang dha’if, artinya hadis masyhur yang tidak memiliki syarat-syarat atau yang kurang salah satu syaratnya dari syarat hadis shahih.

Sebagaimana layaknya hadis ahad, hadis masyhur yang shahih dapat dijadikan hujah. Sebaliknya, hadis masyhur yang dha’if atau yang gair ash-shahih, niscaya tidak dapat dijadikan hujah. Di antara contoh hadis masyhur yang shahih ialah:

من أتى الجمعة فليغتسل (رواه الجماعة)

Bagi siapa yang hendak pergi melaksanakan salat jum’at hendaknya ia mandi[11]

2.    Hadis Aziz

Kata ‘Aziz dari kata ‘azzu, yang berarti qalla (sedikit) atau nadara (jarang terjadi). Bisa juga berasal dari ‘azza, ya ‘azzu yang berarti qawiya atau isytadda (kuat). Arti lainya bisa juga berarti syarif (mulia atau terhormat) dan mahbub (tercinta). Maka hadis ‘Aziz dari sudut pendekatan kebahasaan, bisa berarti hadis yang mulia, hadis yang kuat, atau hadis yang sedikit, atau yang jarang terjadi.

Secara terminologis, hadis ‘Aziz didefinisikan :

Hadis yang diriwayatkan oleh sedikitnya dua orang pe-rawi, diterima dari dua orang pula”.[12]

Dengan definisi di atas, menunjukkan bahwa apabila dalam salah satu thabaqahnya kurang dari dua perawi, hadis tersebut bukan termasuk hadis ‘Aziz. Sebab, jumlah minimal para perawi untuk hadis ‘Aziz, adalah dua orang. Dengan definisi itu juga menunjukkan, apabila ada satu atau dua thabaqahnya yang memiliki tiga atau empat orang perawi, hadis tersebut masih termasuk ke dalam kelompok hadis ‘Aziz, jika pendapat thabaqah-thabaqah lainnya hanya terdapat dua orang perawi saja. Sebab hadis ‘Aziz tidak mengharuskan ata mensyaratkan adanya keseimbangan antara thabaqah-thabaqah-nya.

Sebagaimana hadis masyhur, hadis ‘Aziz terbagi kepada shahih, hasan, dan dha’if. Pembagian ini tergantung kepada terpenuhi atau tidaknya ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat yang berkaitan dengan kualitas ketiga kategori tersebut. Jika hadis tersebut memenuhi syarat keshahihannya, maka itu berarti hadis ‘Aziz yang shahih. Kemudian, jika kualitas ke dhabith-annya kurang, hadis itu berarti hadis ‘Aziz yang hasan, dan jika syarat-syarat atau salah satu syarat kesahihannya tidak terpenuhi, maka hadis itu berarti termasuk hadis ‘Aziz yang dha’if.

Diantara contoh hadis ‘Aziz, adalah:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه و والده و ولده والناس أجمعين (رواه بخارى و مسلم)

 

Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, hingga aku lebih dicintai daripada dirinya, orang tuanya, anaknya dan semua manusia.” (H.R. Bukhari dan Muslim)[13]

Hadis tersebut diterima oleh Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, kemudian diriwayatkan kepada Qatadah dan Abdul Aziz bin Suhaib, selanjutnya Qatadah meriwayatkan kepada dua orang pula, yaitu Syu’bah dan Husain al-Muallim. Hadis dari Abdul Aziz diriwayatkan oleh dua orang, yaitu Abdul al-Waris dan Ismail bin Ulaiyah. Kemudian hadis dari Husain diriwayatkan oleh Yahya bin Said dan dari Syu’bah diriwayatkan oleh Adam Muhammad bin Ja’far dan juga oleh Yahya bin Said. Adapun hadis dari Ismail diriwayatkan oleh Zuhair bin Harb dari Abdul al-Waris diriwayatkan oleh Syaiban bin Abi Syaiban. Dari Yahya diriwayatkan oleh Masdad dan dari Ja’far diriwayatkan oleh Ibn al-Mujana dan Ibn Basyar, sampai kepada Bukhari dan Muslim.

3.    Hadis Garib

a.      Pengertian Hadis Garib

Kata garib dari garaba, yagrubu, yang menurut bahasa berarti munfarid (menyendiri) atau ba’id an wathanih (jauh dari tanah airnya). Bisa juga berarti asing, pelik, atau aneh. Maka kata hadis garib secara bahasa berarti hadis yang menyendiri atau yang aneh.[14]

Secara terminologis, ulama ahli hadis, seperti Ibn Hajar al-Asqali mendefinisikan hadis garib, sebagai berikut:

مَا يَتَفَرَّدُ بِرِ وَ ايَتِهِ شَخْصٌ وَاحِدٌ فِيْ أَيِّ مَوْضِعٍ وَقَعَ التَّفَرُّدُ بِهِ مِنَ السَّنَدِ

Hadis yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya, dimana saja penyendirian itu terjadi[15]

Dalam pengertian lain disebutkan, sebagai berikut:

مَا اِنْفَرَدَ بِرِ وَايَتِهِ رَاوٍ بِحَيْثُ لَمْ يَرْوِهِ غَيْرُهُ أَوِ اِنْفَرَدَ بِزِيَادَةٍ فِيْ مَتَنَِهِ أَوْ إِسْنَادِهِ

Hadis yang diriwayatkan oleh seorang diri perawi, karena tidak ada orang lain yang meriwayatkannya, atau menyendiri dalam hal penambahan terhadap matan atau sanadnya[16]

Berdasarkan definisi pertama menunjukkan, bahwa penyendirian yang dimaksud dalam hadis garib, ialah penyendirian dalam perawi atau sanadnya. Sedangkan berdasarkan definisi kedua, bahwa penyendirian dalam hadis garib bukan hanya terjadi pada sanad atau perawi, akan tetapi bisa juga terjadi pada matanya. Pada sisi lainnya, sebagaimana disebutkan pada definisi pertama, bahwa penyendirian itu bisa terjadi pada thabaqah mana saja. Suatu hadis jika diriwayatkan oleh banyak orang pada beberapa thabaqahnya, akan tetapi pada salah satu thabaqahnya hanya diriwayatkan oleh satu orang, maka hadis itu pun disebutkan dengan hadis garib.

Tempat-tempat penyendirian dimaksud bisa jadi pada awal, tengah-tengah, atau akhir thabaqahnya. Dengan kata lain, bisa jadi pada thabaqah sahabat, thabaqah tabi’in, thabaqah tabi’ at-tabi’in, atau thabaqah sesudahnya.

b.      Pembagian Hadis Garib

Ada dua macam pembagian hadis garib, yaitu: pertama, dilihat dari sudut bentuk penyendirian perawinya, dan kedua, dilihat dari sudut kaitannya antara penyendirian pada sanad dan pada matan.[17] Dilihat dari bentuk penyendirian perawinya, hadis garib terbagi kepada dua bagian, yaitu garib muthlaq dan garib nisbi. Kemudian, dilihat dari sudut kaitannya antara penyendirian pada sanad dan matan terbagi kepada dua bagian pula, yaitu garib pada sanad dan matan secara bersama dan garib pada sanad saja.

1)      Hadis garib dilihat dari sudut penyendirian perawi

a)      Hadis garib muthlaq

Disebut garib muthlaq, artinya penyendirian itu terjadi berkaitan dengan keadaan jumlah personilnya, yakni tidak ada orang lain yang meriwayatkan hadis tersebut, kecuali dirinya sendiri.

Mengenai garib mutlaq ini, diantara para ulama terjadi perbedaan pendapat, apakah penyendirian pada thabaqah sahabat juga termasuk ke dalam kategori hadis garib atau tidak. Dengan kata lain, thabaqah sahabat atau tidak. Menurut sebagaian ulama, ke-garib-an sahabat juga termasuk, sehingga apabila suatu hadis diterima dari Rasul hanya oleh seorang sahabat (misalnya hanya oleh Abu Hurairah sendiri atau Siti A’isyah sendiri), hadis tersebut juga disebut garis, meskipun pada thabaqah-thabaqah berikutnya diterima oleh beberapa orang. Dalam hal ini bisa dilihat misalnya hadis tentang niat, yang berbunyi:

إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امر ئ ما نوى (رواه البخارى)

Segala amal itu hanya dengan niat, dan bagi seseorang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan …”.[18]

Hadis di atas diriwayatkan oleh banyak perawi, antara lain al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Turmudzi, an-Nasai’i dan Ibn Majah. Pada tiap-tiap thabaqahnya, hadis tersebut diriwayatkan oleh banyak perawi. Akan tetapi pada thabaqah sahabat hanya diriwayatkan oleh satu orang perawi, yaitu Umar bin Khathab. Dengan demikian, menurut ulama yang memandang adanya ke-garib-an sahabat, hadis di atas termasuk ke dalam hadis garib. Namun perlu diketahui, bahwa meskipun hadis ini dikategorikan ke dalam kelompok garib, akan tetapi sanad yang dilaluinya tergolong ashah-al-asanid (sanad hadis yang paling shahih).

Menurut sebagian ulama lainnya, berpendapat bahwa penyendirian sahabat tidak termasuk ke dalam hadis garib. Ke-garib-an hadis menurut mereka, hanya diukur pada thabaqah tabi’in (misalnya pada Ibn Syihab az-Zuhri) dan thabaqah-thabaqah berikutnya. Dengan demikian, suatu hadis baru bisa dikategorikan ke dalam hadis garib apabila terjadi penyendirian pada thabaqah tabi’in, atau thabaqah-thabaqah berikutnya. Oleh karena itu, hadis pada contoh di atas, bukanlah termasuk hadis garib, melainkan hadis masyhur.

Contoh hadis garib muthlaq, antara lain :

الو لاء لحمة كلحمة النسب لايباع ولا يوهب

Kekerabatan dengan jalan memerdekakan, sama dengan kekerabatan dengan nasab, tidak boleh dijual dan dihibahkan”.[19]

Hadis ini diterima dari Nabi oleh Ibn Umar dan dari Ibn Umar hanya Abdullah bin Dinar saja yang meriwayatkannya.

b)      Hadis Garib Nisbi

Disebut garib nisbi, artinya kata garib yang relatif. Ini maksudnya, penyendirian itu bukan pada perawi atau sanadnya, melainkan mengenai sifat atau keadaan tertentu, yang berbeda dengan perawi lainnya. Maka pada hadis garib yang termasuk kategori ini, dari sudut personaliannya, pada dasarnya bukan sendirian, tetapi ada perawi lainnya.

Penyendirian seorang perawi seperti di atas, bisa pada ke adilan dan ke-dhabhit-annya, atau pada tempat tinggal atau kota tertentu. Misalnya, hadis itu tidak diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah kecuali si pulan. Maka si pulan berarti garib dalam ke-tsiqah-annya dari perawi lainnya. Atau misalnya, hadis itu tidak diriwayatkan oleh penduduk ahli Madinah kecuali si-pulan. Maka si-pulan berarti garib dalam meriwayatkan hadis tersebut dari penduduk madinah.

Contoh hadis garib nisbi berkenaan dengan kesiqahan perawi, antara lain sebuah hadis yang menjelaskan, bahwa Rasul SAW pada salat hari raya qurban dan hari raya fitrah membaca surat Qaf dan surat al-Qamar. Hadis ini diriwayatkan melalui dua jalur, yaitu jalur Muslim dan jalur Daruquthi. Melalui jalur Muslim, ia menerima dari Malik, Dumrah bin Sa’id, Ubaidillah, dan Abu Waqid al-Laitsi yang menerima langsung dari Nabi SAW. Sedang melalui jalur ad-Daruqutni, ia menerima dari Ibn Lahi’ah, Khalid bin Yazid, Urwah, dan A’isyah, yang langsung menerima dari Nabi.

Pada silsilah sanad yang pertama, Dumrah bin Sa’id disifati sebagai seorang perawi yang tsiqah. Sedang Ibn Lahi’ah pada silsilah kedua, dalam thabaqah yang sama dengan Dumrah bin Sa’id dinilai lemah. Ini artinya, perawi yang meriwayatkan hadis ini pada thabaqah yang sama dengan dia, hanya dia sendiri yang tsiqah. Dengan demikian, hadis ini disebut garib.

2)       Hadis garib dilihat dari sudut kegariban sanad dan matannya

Dilihat dari sudut ke-garib-an pada sanad dan pada matan, hadis garib terbagi kepada dua, yaitu, pertama ke-garib-an pada sanad dan matan secara bersama-sama, dan kedua, ke-garib-an pada sanad saja.

a)      Garib pada sanad dan matan secara bersama-sama

Yang dimaksud dengan garib pada sanad dan matan secara bersama-sama, ialah hadis garib yang hanya diriwayatkan oleh satu silsilah sanad, dengan satu matan hadisnya. Salah satu contoh, ialah hadis yang menjelaskan, bahwa ada dua kalimat yang disenangi oleh Allah, yang ringan diucapkan, akan tetapi berat dalam timbangan kebajikannya, yaitu kalimat “Subhana Allah wa bihamdih subhana Allah al-azhim” (Maha Suci Allah seraya memanjatkan puji kepada-Nya, dan Maha Suci Allah yang Maha Agung).[20]

Hadis di atas diriwayatkan oleh al-Bukhori, Muslim, Ibn Majah, dan at-Turmudzi dengan silsilah sanadnya: al-Bukhori menerima dari Ahmad bin Asykab, dari Muhammad bin Fudhail, dari Umarah bin al-Qa’qa’, dari Abu Zur’ah dan terakhir dari Abu Hurairah. Para pe-rawi lainnya juga meriwayatkan dengan menggunakan silsilah sanad yang sama. At-Turmudzzi menyatakan bahwa hadis ini adalah garib, karena hanya rawi-rawi itulah yang meriwayatkannya.

b)      Garib pada sanad saja

Yang dimaksud dengan garib pada sanad saja, ialah hadis yang telah populer dan diriwayatkan oleh banyak sahabat, tetapi ada seorang rawi yang meriwayatkannya dari salah seorang sahabat yang lain yang tidak populer. Periwayatan hadis melalui sahabat yang lain seperti ini disebut sebagai hadis garib pada sanad.

 C.    Pendapat Para Ulama tentang Hadis Ahad

Para ahli hadis berbeda pendapat tentang hadis ahad, pendapat tersebut adalah:

  1. Segolongan ulama seperti Al-Qasayani, sebagai ulama dhahiriyah dan Ibn Daud, mengatakan bahwa kita tidak wajib beramal dengan hadis ahad.
  2. Jumhur Ulama Ushul menetapkan bahwa hadis ahad memberikan faedah dhan. Oleh karena itu, hadis ahad wajib diamalkan sesudah diakui kesahihannya
  3. Sebagian ulama menetapkan bahwa hadis ahad diamalkan dalam segala bidang.
  4. Sebahagian muhaqqiqih menetapkan bahwa hadis ahad hanya wajib diamalkan dalam urusan amaliyah (furu’), ibadah, kaffarat dan hudud, namun tidak digunakan dalam urusan aqidah.
  5. Imam Syafi’i berpendapat bahwa hadis ahad tidak menghapuskan suatu hukum dari hukum-hukum Al Quran.
  6. Ahlu Zhahir (Pengikut Daud Ibn Ali al-Zhahiri) tidak membolehkan mentakhsiskan umum ayat-ayat Al Quran dengan hadis ahad.[21]

Selanjutnya status dan hukum hadis masyur menjadi bagian dari hadis ahad.  Hukum hadis masyur tidak ada hubungannya dengan sahih atau tidaknya suatu hadis, karena diantara hadis masyur terdapat hadis yang mempunyai status sahih, hasan atau dhaif dan bahkan ada maudhu’ (palsu). Akan tetapi, apabila suatu hadis masyur tersebut berstatus sahih, maka hadis masyur itu hukumnya lebih dari pada hadis ‘Aziz dan garib.

Di kalangan Ulama Hanafiyah, hadits masyur hukumnya adalah zhann, yaitu mendekati yakin sehingga wajib beramal dengannya. Akan tetapi, karena kedudukannya tidak sampai pada derajat mutawatir, maka tidaklah dihukumkan kafir bagi orang yang menolak atau tidak beramal dengannya.

Selain hadis masyur yang dikenal secara khusus di kalangan ulama hadis, sebagaimana yang telah dikemukakan definisinya diatas dan disebut dengan masyur al-ishthilahi, juga terdapat hadis masyur yang dikenal di kalangan ulama lain selain ulama hadis dan di kalangan umat secara umum. Hadis masyur dalam bentuk yang terakhir ini disebut dengan al-masyur gaira isthilahi yang mencakup hadis-hadis yang sanadnya terdiri dari satu orang perawi atau lebih pada setiap tingkatannya atau bahkan yang tidak mempunyai sanad sama sekali.

Dengan demikian, hadis masyur ada yang sesuai dengan pendapat ulama dan ada pula pendapat para fuqaha.

Hadis masyur di kalangan ahli hadis, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih. Contohnya adalah hadis yang berasal dari Anas r.a. dia berkata :

Artinya :  “Muhammad ibn Al-Fadil menceritakan Muhammad ibn Ja’far menceritakan kepada kami Ibrahim ibn Yusuf menceritakan kepada kami An-Nadir ibn ‘Asy’ast menceritakan bahwa sanya Rasulullah SAW bersabda : tidak akan masuk surga kecuali orang yang mempunyai rasa kasih sayang. Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, kami semua mempunyai rasa kasih sayang . Beliau bersabda : (yang dimaksud) bukanlah kasih sayang   salah seorang diantara kamu terhadap dirinya sendiri saja, akan tetapi rasa kasih sayang terhadap semua manusia. Dan tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap semua manusia dan tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap mereka kecuali Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari)[22]

[1]Muhammad ash-Shabbaq, Al-Hadits an-Nabawi; Mushthalahuh Balagatuh, ‘Ulumuh, Khutub, Mansyurat al-Maktab al-Islami, t.t., 1392H/1972M, h.21

[2]Mahmud ath-Thahhan, Taisir Mushalah al-Hadits, Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyah, Beirut, t.t. h. 22

[3] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Mabahits al-Kitab wa as-Sunnah min ‘Ilmi, Mahfud li Jami’ah, Damsyik, h. 17-18

[4] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits; ‘Ulumuh wa Musthalahuh, Dar al-Fikr, Beirut, 1989 M/1409 H, h. 302

[5] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, Jakarta : Gaya Media Pratama, 1996, h. 137

[6] Muslim, Abu al-Husain bin al Hajjaj  al-Qusyairi an Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid I,  Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992 M, h. 3

[7] Jalal ad-Din Abd ar-Rahman bin Abi Bakar as-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an Nawawi, Juz. I, Dar al-Fikr, Beirut, 1988, h. 42

[8] Nur ad-Din ‘Atar, Manhaj an-Naqdi fi ‘Ulum al-Hadits.,Dar al-Fikr, Beirut, 1979, h. 409

[9] Muhammad Ash-Shabbaq, op.cit, h. 182

[10] Muhammad bin Alwi al-Maliki, al-Manhal al-Lathif fi Ushul al-Hadits asy-Syarif, Sihr, t.t. , h. 97

[11] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari,  Matan al-Bukhari bihasyiah as-Sindi, Jilid II, Syirkah Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nubhan  wa Auladuh, h. 2,3,5 dan Muslim, Jilid III, h.2

[12] Ibnu Hajar al-Asqalani, Nubhah al-Fikr, h. 32

[13] Bukhari, jilid I, h. 8 dan Muslim, Jilid I, h. 49

[14] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, op.cit, h. 145

[15] Ibn Hajar al-Asqalani, Nuhbah al-Fikr,

[16] Muhammad bin Alwi al-Maliki,………., h. 91

[17] Untung Ranuwijaya, op.cit., h. 146

[18] Al-Bukhari, Jilid I, op.cit, h. 2. Lihat juga Muslim, Jilid II, op.cit, h. 223

[19] Muhammad  Alwi al-Maliki, loc. cit

[20] Muhammad Alwi Maliki, ………………………., h.

[21] M. Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis

[22] Abu Abdullah bin Muhammad Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s