Islam dalam Pendekatan sains

Standar

ISLAM DALAM PENDEKATAN SAINS

 

Makalah ini disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pendekatan Dalam Pengkajian Islam

 

Dosen Pengampu :

 

Prof. Dr. H.M. Damrah Khair, M.A.

 

 

 

 

 

 


 

Oleh :

KOTAMAD ROJI

NPM. 1101652

 

Program Studi Hukum Keluarga

 

PROGRAM PASCA SARJANA (S-2)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

JURAI SIWO METRO

1433 H/2011 M

I.     PENDAHULUAN

 Islam adalah ajaran agama yang diemban oleh Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada seluruh manusia dimuka bumi. Ajaran agama Islam berlandaskan Al-Quran dan Al-hadist.Al- Quran merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat Islam sedangkan Al-Hadist merupakan segala perilaku Nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuannya.

Al -Quran dan Al-Hadist adalah pedoman hidup bagi umat Islam yang harus ditaati dan dipatuhi, baik berupa perintah maupun larangan-larangan Allah swt. Seperti misalnya, perintah untuk selalu menuntut ilmu, berbuat kebajikan dan  lain-lain serta larangan-larangan agar jangan berbuat jahat, dzolim dan lain sebagainya.

Betapa suci dan mulianya agama Islam yang memiliki ajaran menata perilaku manusia agar hidup lebih baik, menempatkan posisi manusia agar menjadi manusia yang berakhlak mulia. Al-Quran dan Al-Hadist disamping menjadi penata perilaku manusia disisi lain dapat menjadikan manusia menjadi pemikir yang intelektual karena Islam selain mengajarkan ketaatan juga mengajarkan untuk dapat memperhatikan dan mempelajari segala peristiwa alam yang terjadi disekitar.

Peristiwa-peristiwa alam yang terjadi dan dipelajari tersebut melahirkan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam yang kemudian muncul cabang-cabang ilmu pengetahuan atau disebut dengan sains. Pemikiran sains dalam Islam tentu berbeda dengan pemikiran sains dalam dunia Barat (Eropa), karena pemikiran sains dalam Islam mengkaji peristiwa alam terkait dengan Al-Quran dan Al-Hadist sementara pemikiran sains Eropa hanya mengkaji peristiwa alam semata tanpa berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadist.

Sejalan dengan kondisi perkembangan sains antara Islam dengan sains Eropadan pengaruh globalisasinya, westernisasidan berbagai ideologinya tersebar ke seluruh dunia. Komunitas muslimsudah sulit untuk membedakan antara identitas sains Islam dan sains Eropa. Begitu mengakarnya disetiap sendi kehidupan berakibat pada terjadinya pengkaburan paradigma, cara pandangterhadap sains Islam. Sehingga banyak di antara kita yang sulit untuk mengidentifikasibahkan takut terhadap identitas kita sendiri. Tidak sedikit cendekiawan muslim yang canggungterhadap sifat Islam terutama pada ilmu sosiologi, fisika, psikologi, politik, dan ilmu ekonomi.Dampak dari hilangnya identitas itu dapat diamati dari berbagai pernyataancendekiawan muslim. Jamaluddin al Afghani seorang tokoh pembaharu misalnya mengatakan,”Barang siapa melarang belajar sains dan ilmu pengetahuan dengan alasan untuk menjagaagama Islam, maka ia adalah musuh agama yang sebenarnya.”Islam adalah agama yang paling dekat dengan sains dan ilmu pengetahuan bahkan tidak adaketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan dasar-dasar agama.

Meskipun demikian idealisnya agama Islam, ternyata masih banyak sebagian kalangan para ulama yang memperbincangkan antara agama dengan sains.Perbincangan ini karena adanya pemahaman yang berbeda,ada sebagaian para ulama yang setuju dengan adanya pemikiran sains dalam Islam namun ada sebagaian lagi yang kurang setuju tentang adanya sains tersebut.

II.         PEMBAHASAN

             Sains adalah pengetahuan tentang alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya adalah botani,fisika, kimia, geologi dan biologi.Bisa juga dikatakan pengetahuan sistematis yang diperolehdari observasi penelitian dan uji coba yang mengarah pada penemuan sifat dasar atau prinsipsesuatau yang diteliti.Pendekatan Islam mengakui keterbatasan akal manusia serta mengakuisains berasal dari Tuhan.

Sains di zaman modern saat ini berkembang begitu pesat sedangkan agama bergerak begitu lambat sehingga agama tidak mampu mengikuti kemajuan yang dicapai oleh sains.Sehingga hal ini dapat menyebabkanterjadinya pertentangan, dalam membahas masalah pertentangan antara agama dan sains maka perlu diketahui tentang hakikat agama itu sendiri.

Pada hakikatnya tidak semua yang terdapat dalam agama bersifat mutlak dan kekal.Ajaran agama dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni ajaran yang bersifat statis dan ajaran agama bersifat dinamis.Ajaran agama dalam kitab suci yang bersifat statis merupakan wahyu Tuhan yang absolut atau mutlak yang tidak berubah dan tidak boleh berubah.Sehingga ajaran yang diwahyukan tersebut memerlukan penjelasan atau penafsiran.Sedangkan ajaran agama yang bersifat dinamis merupakan hasil pemikiran manusia yang dapat berubah dan boleh diubah menurut perkembangan zaman.

Jika ada anggapan yang mengatakan bahwa semua ajaran agama bersifat absolut atau mutlak itu tidak tepat, karena ajaran agama di samping bersifat mutlak di sisi lain ajaran agama bersifat nisbi yang dapat berubah dan bolehdiubah. Jika ajaran agama hanya bersifat mutlak maka akan sulit mengikuti perkembangan modern bahkan banyak mengalami benturan dalam sains. Namun sebaliknya jika ajaran agama bersifat nisbi atau dinamis maka akan dengan mudah dapat mengikuti perkembangan sains dan modernisasi.

Dalam konteks Islam, ajaran yang diemban oleh Nabi Muhammad saw memiliki ajaran agama yang statis dan dinamis. Ajaran agama yang bersifat statis yang tidak dapat berubah dan tidakboleh diubah dalam Islam adalah wahyu Allah yang terdapat dalam kitab suci Al Quran yang mengandung 6.236 ayat, diturunkan di Mekah dan Madinah.Ayat yang diturunkan di Mekah sebanyak 4.780 ayat, sebagaian besar menerangkan tentang keimanan.Sedangkan ayat yang diturunkan di Madinah sebanyak 1.456 sebagian besar menerangkan tentang kehidupan bermasyarakat.

Sementara ajaran agama yang bersifat dinamis yang dapat berubah dan boleh diubah dalam Islam adalah ayat-ayat yang menerangkan tentang fenomena-fenomena alam atau disebut dengan ayat kauniyah yakni ayat yang berkenaan dengan kejadian alam.Ayat yang menjelaskan tentang fenomena alam ini mengandung perintah agar manusia banyak memperhatikan dan memikirkan alam sekitarnya seperti kejadian adanya hujan, pertukaran siang dan malam, peredaran planet dan sebagainya.[1]

Penelitian ilmiah tentang fenomena-fenomena alam dan sebab-sebab adanya fenomena-fenomena tersebut secara berangsur-angsur menarik perhatian beberapa peneliti terhadap suatu problem baru.Dalam penelitian mereka, mereka menemukan bahwa setiap fenomena alam terwujud berkat sejumlah sebab.Pada waktu bersamaan, setiap sebab ini sendiri merupakan fenomena alam, sebab-sebab adanya tersebut juga haruslah ditemukan. Jika sebab-sebab adanya fenomena-fenomena alam ini tidak lain hanyalah serangkaian, maka haruslah juga dicari sebab-sebab adanya serangkaian fenomena alam tersebut.[2]

Penomena alam seperti hujan adalah ayat kauniyah yang dapat melahirkan sains dan berkembang selaras dengan perkembangan zaman. Karena hujan merupakan proses yang sangat kompleks. Faktor-faktor yang menyebabkannya pun termasuk hal-hal yang tidak dapat dikontrol oleh makhluk dan hujan terjadi melalui sejumlah reaksi alamiah dan kimia yang belum diketahui sepenuhnya.di sini sudah jelas, bahwa turunnya hujan pada hakikatnya adalah rahasia alam yang tidak dapat diketahui kecuali hanya Allah swt. Meskipun demikian, para ilmuwan berusaha untuk memahami bagaimana proses pembentukan dan penurunan hujan dari ragam awan yang mengandung uap air dan buliran-buliran kecil air.[3]

Kelebihan manusia atas makhluk hidup lainnya senantiasa berupa bahwa penghargaan manusia terhadap pengetahuan tidak berhenti pada tataran dasar dan manusia selalu berupaya meningkatkan pemahaman serta pengetahuannya.Pengalaman historis yang ekstensif memperlihatkan bahwa manusia berambisi mendapatkan pengetahuan yang semakin lebih tinggi dan tidak ingin membatasinya.[4]

Namun perlu diperhatikan bahwa seperti yang terdapat pada agama umumnya, di kalangan umat Islam ada kecenderungan keras anggapan ijtihad atau pemikiran ulama bersifat absolut.Sehingga pengertian tentang ajaran agama tidak lagi bisa dibedakan dengan ajaran yang bersifat dinamis, yang dapat berubah. Pemahaman pendapat demikian dikenal dengan nama tradisional, yakni segolongan yang ingin mempertahankan penafsiran-penafsiran dan pemahaman-pemahaman lama. Namun di sisi lain terdapat segolongan modernis yakni pembaharu yang ingin mengadakan pemahaman dan interpretasi baru sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika golongan pembaharu dapat berkembang dalam masyarakat maka pertentangan antara agama dengan sains tidak akan menjadi konflik seperti pada golongan tradisional. Penafsiran-penafsiran dan nilai-nilai lama karena tidak bersifat absolut maka dapat berubah dan boleh diubah sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat.Seperti adanya emansipasi wanita yang telah juga membawa perubahan kedudukan wanita dalam pandangan beberapa kalangan ulama.Wanita tidak lagi dipandang rendah, wanita tidak boleh belajar bersama-sama kaum lelaki, pengertian lama bahwa wanita adalah sumber fitnah.Dalam pemahaman Islam pada masa lampau, semua itu tidak dibolehkan.Paham tentang qadha’ dan qadar serta sifat fatalisme masa lampau juga telah menurun diganti oleh paham ikhtiar manusia yang dikaitkan dengan hukum alam ciptaan Tuhan dan paham sebab akibat serta evolusi.Selain itu, nasionalisme ajaran agama yang bersifat absolut mulai menggeser paham lama yang menyandarkan segala-galanya kepada wahyu Tuhan dan ajaran agama.[5]

Sumber agama adalah wahyu sementara sumbersains adalah hukum alam ciptaan Tuhan yaitu sunatullah, sedangkan keduanya berasal dari sumber yang satu, yakni dari Allah swt.Maka antara wahyu dan sains tidak bisa diadakan pertentangan.Ayat kauniyahdalam Al Quran merupakan ayat yang mengajarkan manusia agar memperhatikan fenomena alam sehingga mendorong ulama-ulama Islam dizaman Klasik untuk mempelajari dan meneliti tentang fenomena alam tersebut.

Awal berkembangnya sains ini mulai berkembang pada anatara abad ke delapan dan ketiga belas Masehi. Perkembangannya dimulai dari penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab yang berpusat di di Baqhdad. Pergerakan penerjemahan ini di antaranya ilmu kedokteran, matematika, fisika, mekanika, botanika, optika, astronomi di samping filsafat dan logika.Karangan buku yang diterjemahkan adalah karangan-karangan Galinos, Hipocrates, Plolemeus, Euclid, Ploto, Aristoteles dan lain sebagainya.Buku tersebut dipelajari oleh para ulama-ulama Islam yang berkembang dibawah pengaruh kekhalifahan Bani ‘Abbas sehingga muncul ilmu tentang hitung, ilmu ukur, aljabar, ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu alam, ilmu bumi, ilmu sejarah serta ilmu Bahasa dan Sasra Arab.

Para ulama Islam di zaman klasik tidak hanya menguasai ilmu dan filsafat dari pearadaban Yunani kuno, tetapi para ulama juga mengembangkan hasil penyelidikannya tersebut ke dalam sains.Dengan demikian muncullah para ilmuan Islam hingga didirikannya berbagai universitas di anataranya Universitas Cordova di Andalusia (Spanyol), Universitas Al-Azhar di Kairo Univerisat Al-Nizamiah di Baghdad dan Universitas lainnya.[6]

Sains yang pertama menarik para Ulama adalah ilmu kedokteran yakni ‘Ali bin Rabbah Al-Thabrani pada tahun 850 M mengarang KitabFirdaus Al-Hikmah. Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Al-Razi (865-925 M.) di Eropa dikenal dengan nama Rhazes mengarang Kitab Al-Thibb Al-Manshuri dan Al-Hawi. Ilmu astronomi yakni Alfarganus (Abu Al-‘Abbas Al-Fargani)dan Albattegnius (Muhammad bin Jabir Al-Battani).[7] Sedangkan ilmu Matematika yakni Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa latin bernama Alqoritme de Numaero Indorum pada tahun 873 M.

Berbagai sains daripara ilmuwan Islam menghasilkan teori-teori ilmiah tidak mendapatkan tantangan dari para ulama di masa itu.Sains dan agama hidup berdampingan dengan damai, selama lima abad yakni abad kedelapan sampai abad ke tiga belas. Kemudian ketika umat Islam mengalami kemunduran dalam sejarah kebudayaannya maka pada waktu itu buku-buku ilmiah karangan para ilmuwan Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh orang Eropa.Bersamaan dengan itu, maka berkembang pula pemikiran-pemikiran Islam terutama pemikiran Ibn Rusyd yakni antara agama dan filsafat tak ada pertentangan di Eropa.Jika pemikiran Ibn Rusyd dalam Islam membawa keselarasan agama dan filsafat maka di Eropa berkembanglah pemikiran yang di sebut Averroeisme Ibn Rusyd yakni membawa kebenaran ganda.Kebenaran ganda maksudnya yakni kebenaran yang dibawa agama adalah benar dan kebenaran yang dibawa filsafat adalah benar pula.

Zaman kebangkitan Eropa yang dikenal dengan Ranaissance, lahir atas pengaruh Averroeisme, yang dalam bahasa Arab disebut Ibn Rasydiah dan atas pengaruh penerjemah karya Ilmuwan Islam lainnya dalam bidang sains atau sains ke dalam bahasa Latin.[8]

Oleh karenanya, jika pernyataan bahwa sains Eropa itu sudah tidak netral dantentu berbeda dengan sains Islam.Terbukti sains Eropa tidak memberi tempat pada wahyu,agama dan bahkan pada Tuhan.Realita Tuhan tidak menjadi pertimbangan lagi dalam sains Eropa, karena Tuhan dianggap tidak riil.Sehingga agama, bahkan dipertanyakan dan dituntutuntuk direformasi kemudian dimarginalkan.

Secara lebih luas, perbedaan keduanya jika ditelusuri dari pandangan hidup (world view).Perbedaan pandangan hidup berarti perbedaan konsep fundamental lainnya yang di dalamnyatentang konsep Tuhan, ilmu, manusia dan alam, etika dan agama berbeda-beda antaraperadaban satu dengan yang lain. Dalam situsasi seperti ini pertemuan keduanya dapat berupaancaman bagi yang lain. Faktanya sains Eropa modern itu ternyata menjadi tantangan bagipandangan hidup Islam.

Dalam Islam pengetahuan tentang realitas itu tidak hanya berdasarkan akal saja, tapi jugawahyu, instuisi dan pengalaman.Tapi dalam sains Eropa akal diletakkan lebih tinggi dari padawahyu.Sehingga sains tidak berhubungan harmonis dengan agama bahkan meninggalkanagama.

Pemikiran rasional Islam dalam sains mempunyai pengaruh pada renaisans dan perkembangan sainsdi  Eropa, sehingga para penulis Barat sendiri mengakuinya, seperti Gustav Le Bon, Hendry trece, Alfred Guillaume dan lain-lainnya. Pengakuannya tentang pemikiran para Ilmuwan Islam yakni orang Arab menjadi guru orang Eropa dalam sains dan menjadikan inspirasi timbulnya revolusi ilmiah di Eropa abad ke tujuh belas.

Berdasarkan paparan di atas, identitas sains Islam sudah tidak perlu dipersoalkan lagi baik secarahistoris, teoristis, ataupun propestif.Perkembangan sains dalam hal ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang bersifat tidak statis, tidak ada pertentangan antara agama dengan sains.Antara keduanya bisa menjadi interaksi yang serasi.Karena ajaran dan nilai serupa inilah yang banyak dalam Islam, maka sebenarnya antara agama dengan sains tidak mesti terjadi pertentangan.

Pertentangan terjadi karena pengertian tentang ajaran yang bersifat statis dengan ajaran yang bersifat dinamis belum berkembang dalam masyarakat. Jika pengertian  tersebut telah berkembang dengan baik maka pertentangan antara ajaran yang bersifat statis dan dinamis dapat diatasi.

III.        KESIMPULAN

 Sains dalam ajaran Islam pada dasarnya mengalami ruang perbedaan. Hal ini karena di satu pihak ingin berusaha untuk mempertahankan ajaran Islam secara statis atau yang disebut dengan pemikiran tradisional di pihak lain ingin berusaha untuk menselaraskan Islam dengan perkembangan secara dinamis atau yang di sebut dengan pemikiran modern dengan menggunakan pendekatan sains dalam Islam.

Pembaharu Islam dalam sains sendiri muncul diawali dengan perkembangan sains di Eropa sehingga banyak para Ilmuwan Islam yang berusaha untuk menterjemahkan pemikiran sains tersebut.Sehingga lahirlah para pembaharu Islam dalam sains yang kemudian menjadi kiblat atau guru sains oleh orang Eropa.Hal ini karena para Ilmuwan Islam mengkaji sains berdasarkan Al-Quran sehingga oleh orang Eropa disebut kebenaran ganda.Namun ketika peradaban Islam mulai hancur justru sains di Eropa memuai puncak kejayaan dengan tanpa melepaskan pemikiran sains Islam di Eropa.

Islam dalam sains pada prinsipnya tidak mengalami benturan atau pertentangan karena Islam adalah agama yang paling dekat dengan sains dan ilmu pengetahuan bahkan tidak adaketidaksesuaian dengan ilmu pengetahuan dasar-dasar agama.Sains itu identik dengan Islam dan Islam merupakan ajaran yang dinamis dapat berkembang selaras dengan perkembangan zaman mengawal kemodernisasian. Islam bukan merupakan agama yang statis, absolut, mutlak dan kaku karena di dalam ayat-ayat Al-Quran ada beberapa kandungan ayat yang kauliyah yakni ayat yang memerlukan kajian pemikiran yang boleh di analisis secara Ilmiah

DAFTAR PUSTAKA

 

Harun Nasution,  Islam Dan Rasional Gagasan Dan Pemikiran, Mizan, Bandung,  2000

Harun Nasution, Islam dan Rasional gagasan dan pemikiran. Mizan, Bandung, 2000

Muhammad Husaini Beheshti, Metafisika Al-Quran menangkap intisari Tauhid, Mizan, Bandung,  2003

Philip K. Hitti, Hisstory of the Arab, Mac. Millan dan Co. ltd., London, 1964

Zaghlul An-Najjar Pembuktian Sains dalam Sunah. Amzah, Semarang,  2006


[1]Harun Nasution,Islam dan Rasional gagasan dan pemikiran. Mizan, Bandung, 2000,   h, 291-295.

[2]Muhammad Husaini Beheshti, Metafisika Al-Quran menangkap intisari Tauhid, Mizan, Bandung,  2003. H. 19.

[3]Zaghlul An-NajjarPembuktian Sains dalam Sunah. Amzah, Semarang,  2006. H. 216 -218.

[4]Muhammad Husaini, op.cit, h. 16.

[5]Harun Nasution, Islam Dan Rasional Gagasan Dan Pemikiran, Mizan, Bandung,  2000 h. 291-295.

[6]  Philip K. Hitti, Hisstory of the Arab, Mac. Millan dan Co. ltd., London, 1964), h.530

[7]Ibid., h. 337.

[8]Harun Nasution. op.cit,  h. 300 – 301.


4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s