Islam dan Kebudayaan

Standar

I.    Latar Belakang

Dilihat dari segi Agama dan Budaya yang masing – masing memiliki keeratan satu sama lain, sering kali banyak di salah artikan oleh orang – orang yang belum memahami bagaimana menempatkan posisi Agama dan posisi Budaya pada suatu kehidupan.
Penulis masih sering menyaksikan adanya segelintir masyarakat yang mencampur adukkan nilai – nilai Agama dengan nilai – nilai Budaya yang padahal kedua hal tersebut tentu saja tidak dapat seratus persen disamakan, bahkan mungkin berlawanan. Demi terjaganya esistensi dan kesucian nilai – nilai agama sekaligus memberi pengertian, disini penulis hendak mengulas mengenai Apa itu Agama dan Apa itu Budaya, yang tersusun berbentuk makalah dengan judul “Agama dan Budaya”. Penulis berharap apa yang diulas, nanti dapat menjadi paduan pembaca dalam mengaplikasikan serta dapat membandingkan antara Agama dan Budaya.

II. PERUMUSAN
Adapun hal – hal yang akan penulis bahas disini antara lain:
A. Pengertian Agama dan Budaya
B. Unsur – unsur Agama dan Budaya
C. Bentuk – bentuk Agama dan Budaya
D. Hubungan Agama dan Budaya

III. PEMBAHASAN
PENGERTIAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Pengertian Agama : Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata “din” ( ) dari bahasa Arab dan kata “religi” dari bahasa Eropa. Agama berasal dari kata Sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata, “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti pergi, maka kata Agama dapat diartikan tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun – temurun.
Sedangkan kata “Din” itu sendiri dalam bahasa Semit berarti undang – undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan.
Adapula kata Religi yang berasal dari bahasa Latin. Menurut satu pendapat asalnya ialah “relegere” yang mengandung arti mengumpulkan, membaca dan dapat juga kata relegare juga bisa diartikan mengikat. Oleh karena itu agama adalah suatu ketetapan yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa secara mutlak atau tanpa adanya campur tangan siapa saja.
Pengertian Kebudayaan : ditinjau dari sudut Bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta “Buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain megatakan juga bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, yang mempunyai arti “daya” dan “budi”. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Sedangkan budaya sendiri adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.[1]

UNSUR – UNSUR AGAMA DAN KEBUDAYAAN
1. Unsur – unsur penting yang terdapat dalam Agama ialah :
– Unsur Kekuatan Gaib : Manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong. Oleh karena itu, manusia merasa harus mengadakan hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut. Hubungan baik ini dapat diwujudkan dengan mematuhi perintah dan larangan kekuatan gaib itu sendiri.
– Keyakinan Manusia : bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud. Dengan hilangnya hubungan baik itu, kesejahteraan dan kebahagiaan yang dicari akan hilang pula.
– Respons yang bersifat Emosionil dari manusia : Respons itu bisa mengambil bentuk perasaan takut, seperti yang terdapat dalam agama – agama primitif, atau perasaan cinta, seperti yang terdapat dalam agama – agama monoteisme. Selanjutnya respons mengambil bentuk penyembahan yang terdapat dalam agama primitif, atau pemujaan yang terdapat dalam agama – agama monoteisme. Lebih lanjut lagi respons itu mengambil bentuk cara hidup tertentu bagi masyarakat yang besangkutan.
– Paham adanya yang kudus (saered) dan suci : dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang mengandung ajaran – ajaran agama bersangkutan dan dalam bentuk tempat – tempat tertentu.

2. Adapun Unsur Kebudayaan yang bersifat universal yang dapat kita sebut sebagai isi pokok tiap kebudayaan di dunia ini, adalah sebagai berikut :
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari – hari misalnya : pakaian, perubahan, alat rumah tangga, senjata dan sebagainya.
2. Sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi. Misalnya : Pertanian, peternakan, sitem produksi.
3. Sistem kemasyarakatan, misalnya : kekerabatan, sistem perkawinan, sistem warisan.
4. Bahasa sebagai media komunikasi, baik lisan maupun tertulis.
5. Ilmu Pengetahuan
6. Kesenian, misalnya : seni suara, seni rupa, seni gerak.
7. Sistem Regili.[2]

BENTUK – BENTUK AGAMA DAN KEBUDAYAAN
(1) Pada dasarnya bentuk Agama ada yang bersifat primitif dan ada pula yang dianut oleh masyarakat yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Agama – agama yang terdapat dalam masyarakat primitif ialah Dinamisme, Animisme, Monoteisme dll, adapun pengertiannya adalah sebagai berikut :
Ø Pengertian Agama Dinamisme ialan : Agama yang mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Dalam faham ini ada benda – benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari – hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat jahat. Dan dalam bahasa ilmiah kekuatan gaib itu disebut ‘mana’ dan dalam bahasa Indonesia ‘tuah atau sakti’.
Ø Pengertian Agama Animisme ialah : Agama yang mengajarkan bahwa tiap – tiap benda, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, mempunyai roh. Bagi masyarakat primitif roh masih tersusun dari materi yang halus sekali yang dekat menyerupai uap atau udara. Roh dari benda – benda tertentu adakalanya mempunyai pengaruh yang dasyat terhadap kehidupan manusia, Misalnya : Hutan yang lebat, pohon besar dan ber daun lebat, gua yang gelap dll.
Ø Pengertian Agama Monoteisme ialah : Adanya pengakuan yang hakiki bahwa Tuhan satu, Tuhan Maha Esa, Pencipta alam semesta dan seluruh isi kehidupan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.

(2) Bentuk – bentuk Kebudayaan.
1. Kebudayaan Islam
Islam berkembang sejak diutusnya seorang Rasul yang bernama Nabi Muhammad SAW, dimana Ajaran – ajaran Islam sendiri masih sangat kental dan suci, namun sejalan dengan perkembangan dunia dan perubahan zaman, Ajaran – ajaran Islam pun kian marak dijadikan sebuah Budaya, yang akhirnya masyarakat sendiri sulit membandingkan antara Agama dengan Budaya.[3]
Contohnya : Masalah busana muslim “Jilbab”, di zaman dahulu busana muslim atau jilbab adalah pakaian yang menutup aurat, pakaian longgar dan panjang, seperti yang difirman Allah SWT dalam Al – Qur’an An – Nur : 31 (“ Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakka perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra – putra mereka atau putra – putra suami mereka ………….” ).[4]
Sedangkan zaman sekarang jilbab menjadi sebuah model atau gaya yang mana tidak lagi melihat pada tuntunan Islam.
Contoh lain : Pernikahan dahulu pernikahan cukup hanya dengan sebuah Aqad nikah (Ijab qobul) kemudian untuk memberitakan sebuah pernikahan hanyalah mengundang para tetangga atau saudara terdekat, itupun dalam suasana yang cukup sederhana, tetapi sekarang pernikahan bak sebuah pesta hajat yang besar, penggunaan adat istiadat pun dalam pernikahan kian marak terjadi dan akhirnya menjadi sebuah budaya yang sulit dihilangkan.

2. Kebudayaan Romawi Timur
Kerajaan Romawi didirikan pada tahun 753. Budaya Romawi pada umumnya beragama Nasrani. Dalam Kebudayaannya dikenal 3 muhzab yang termasyur yaitu :
1. Mazhab Yaaqibah, yang bertebaran di Mesir, Habsyah Mazhab ini berkeyakinan bahwa Isa Almasih adalah Allah.
2. Mazhab Nasathirah yang betebaran di Mesir, Irak, Persia
3. Mazhab Mulkaniyah, Kedua Mazhab ini berkeyakinan bahwa dalam diri Al – Masih terdapat 2 tabiat yaitu :
1) Tabiat ketuhanan.
2) Tabiat kemanusiaan.[5]

3. Kebudayaan Persia
Dalam sejarah kebudayaan Persia, masyarakatnya banyak yang menyembah berbagai alam nyata, seperti langit, cahaya, udara, air dan api. Api dilambangkan sebagai Tuhan baik, sehingga mereka menyembah api yang selalu dinyalakan didalam rumah – rumah.[6]

4. Persia Kebudayaan Arab Jahilliyah
Disebut Arab Jahilliyah karena sebelum Islam datang mereka adalah pembangkang kepada kebenaran. Budaya orang – orang Arab Jahilliyah adalah menyembah berhala karena itulah mereka terus menentang kebenaran meski di ketahui dan didasari kebenarannya oleh mereka.[7]

HUBUNGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Agama dalam pengertian “Addien”, sumbernya adalah wahyu dari Tuhan khususnya agama Islam. Seorang ahli sejarah dan kebudayaan dunia barat bernama Prof. H.A. Gibb menulis dalam bukunya : “Wither Islam” : “Islam is indeed much more than a system of thologi, it is a complete civilization” (Islam adalah lebih daripada suatu cara – cara peribadatan saja, tetapi merupakan suatu kebudayaan dan peradaban yang lengkap). Kelebihan Islam dari agama – agama lain, bahwa Islam memberikan dasar yang lengkap bagi kebudayaan dan peradaban.[8]
Oleh karena itu agama Islam agama fitrah bagi manusia, agama hakiki yang murni, terjaga dari kesalahan dan tidak berubah – ubah. Ingatlah ayat suci Al – Qur’an yang artinya “Hadapkanlah mukamu kepada agama yang benar : fitrah Tuhan yang telah menjadikan manusia atasnya, tidak dapat mengganti kepada makhluk Tuhan. Demikianlah Agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Ruun : 30).[9] Berdasarkan sumber – suber tersebut maka penulis dapat menegaskan bahwa Agama mutlak ciptaan Allah SWT dan kebudayaan itu sendiri hasil pemikiran manusia yang tingkat kebenarannya/kefitrahannya tidak mungkin melebihi Agama.

IV. PENUTUP
Dari uraian tentang “Agama dan Budaya” yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Agama adalah mutlak ciptaan Allah SWT yang hakiki oleh karena itu agama dijamin akan kefitrahannya, kemurniannya, kebenarannya, kekekalannya, dan konstanta atau tidak dapat dirubah oleh manusia sampai kapanpun. Sedangkan kebudayaan adalah hasil cipta, karya, rasa, karsa dan akal buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidupnya, dimana kebudayaan itu sendiri akan mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan jaman. Oleh karena itu, penulis menekankan kepada pembaca bahwa antara agama dan budaya meski memiliki hubungan namun tidak dapat dicampur adukan.
Demikian makalah ini disususun, semoga dapat menjadi satu dari budaya sarana dalam menerangkan antara agama dan budaya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Prasetya Tri Joko, Drs. ; Ilmu Budaya Dasar,
(Jakarta : PT Rineka Cipta, 1998)
2. Hasjmy.A.Prof. ; Sejarah Kebudayaan Islam,
( Jakarta : PT Karya Uni Press, 1995), Cet. Ke – 5
3. Mustopo Habib.M. ; Ilmu Budaya Dasa ,
( Surabaya Usaha Nasional, 1983)
[1] Joko Tri Prasetyo, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta ; PT Rineka Cip, 1998) hal. 28
[2] Joko Tri Prasetyo, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta ; PT Rineka Cip, 1998) hal. 33
[3] A. Hasjmy, Kebudayaan Islam, (Jakarta ; PT Karya Uni Pres, 1995) Cet. 5
[4] Q.S. An – Nurr : 31
[5] A. Hasjmy, Kebudayaan Islam, (Jakarta ; PT Karya Uni Pres, 1995) Cet. 5
[6] Ibid,.
[7] A. Hasjmy, Kebudayaan Islam, (Jakarta ; PT Karya Uni Pres, 1995) Cet. 5
[8] Joko Tri Prasetyo, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta ; PT Rineka Cip, 1998) hal. 48
[9] Q.S. Ar-Ruum : 31

Islam Agama Sempurna dan Lengkap

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

Sungguh suatu anugerah yang tak terhingga, ketika Allah SWT memberikan nikmat terbesar dalam kehidupan manusia, yaitu nikmat iman dan Islam. Nikmat yang menjadikan ada sebuah pembeda (furqan) antara seorang muslim dengan musyrikin. Nikmat Islam merupakan kunci surga Allah, yang di dalamnya terdapat banyak sekali kenikmatan abadi yang tiada habisnya, di mana setiap muslim dijamin oleh Allah akan dimasukkan ke dalam jannah-Nya, apabila menerapkan Islam secara kaffah dalam hidupnya. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah 2: 208)

Islam memiliki sifat-sifat dasar yaitu kesempurnaan, penuh nikmat, diridhai dan sesuai dengan fitrah. Sebagai agama, sifat-sifat ini dapat dipertanggungjawabkan dan menjadikan pengikutnya dan penganutnya tenang, selamat dan bahagia dalam menjalani hidup. Muslim menjadi selamat karena Islam diciptakan sebagai diin yang sempurna. Ketenangan yang dirasakan seorang muslim karena Allah memberikan segenap rasa nikmat kepada penganut Islam, kemudian kepada mereka yang mengamalkan Islam karena sesuai dengan fitrahnya. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum 30: 30)

Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Agama Islam yang beliau bawa ini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa, disetiap tempat dan di masyarakat manapun. Dalam permasalahan kali ini penulis akan menjelaskan tentang Islam sebagai agama sempurna, sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah SWT berikut ini :

.

Pada hari ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(QS. Al-Maidah : 3)

BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Pengertian Agama Islam

Kata Islam, berasal dari kata ‘aslama – yuslimu – Islaman’,  artinya, tunduk, patuh, menyerahkan diri.[1] Kata Islam terambil dari kata dasar sa la ma atau sa li ma yang artinya selamat, sejahtera, tidak cacat, tidak tercela.[2] Hal serupa juga diungkapkan oleh Hamka dalam bukunya Studi Islam bahwa “Islam adalah kata bahasa Arab yang terambil dari kata salima yang berarti selamat, damai, tunduk, pasrah dan berserah diri”.[3] Objek penyerahan diri ini adalah Pencipta seluruh alam semesta, yakni Allah SWT. Dengan demikian, Islam berarti penyerahan diri kepada Allah SWT., sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an surat Ali- Imran   ayat 19 berikut:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.(QS. Ali-Imran : 19)

Menurut istilah, Islam adalah wahyu atau risalah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada umatnya yang menjadi pedoman bagi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[4] Dari definisi ini terlihat ada tiga unsur pokok yang membedakan Islam dengan agama-agama yang lain, yaitu:

  1. Islam itu adalah risalah atau wahyu dari Tuhan.
  2. Wahyu atau risalah Tuhan itu disampaikan kepada Nabi Muhammad, artinya wahyu atau risalah-risalah yang disampaikan selain kepada Nabi Muhammad bukanlah Islam.
  3. Islam bertujuan untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, artinya Islam bukanlah agama yang berat sebelah, ke akhirat saja atau ke dunia saja.

Islam adalah agama sepanjang sejarah manusia, ajaran dari seluruh nabi dan rasulnya yang penah di utus oleh Allah SWT pada bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok manusia. Islam agama bagi Adam a.s, Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan Nabi Isa a.s.

Agama Islam adalah agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan serta diteruskan kepada seluruh umat manusia yang mengandung ketentuan-ketentuan keimanan (aqidah) dan ketentuan-ketentuan ibadah dan muamalah (syariah) yang menentukan proses berpikir, merasa, berbuat, dan proses terbentuknya hati.

Pada dasarnya Islam terdiri dari 3 unsur pokok yaitu iman, islam dan ihsan, meskipun ketiganya mempunyai pengertian yang berbeda tetapi dalam praktek satu sama lain saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

Iman artinya membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan merealisasikannya dalam perbuatan akan adanya Allah SWT, dengan adanya segala Kemaha sempurnaan-Nya, para Malaikat, Kitab-kitab Allah, para Nabi dan Rasul, hari akhir serta Qadha dan Qadhar.[5]

Islam artinya taat, tunduk, patuh dan menyerahkan diri dari segala ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT.[6]

Ihsan artinya berakhlak serta berbuat shalih sehingga dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan bermuamalah (interaksi) dengan sesama mahluk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan seakan-akan Allah menyaksikan gerak-geriknya sepanjang waktu meskipun ia sendiri tidak melihatnya.[7]

Dari yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa pada agama Islamlah kita temui ciri-ciri agama wahyu yang lengkap. Sehingga agama Islam, bukan hanya agama yang benar, tetapi juga agama yang sempurna.

Islam merupakan agama yang sempurna berarti lengkap, menyeluruh dan mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Sebagai petunjuk/ pegangan dalam hidupnya, sehingga dapat menjalani hidup dengan baik, teratur dan sejahtera, mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh sisi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlaq dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran. Ia adalah aqidah yang lurus, ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih. Syumul (universalitas) merupakan salah satu karakter Islam yang sangat istimewa jika dibandingkan dengan syariah dan tatanan buatan manusia, baik komunisme, kapitalisme, demokrasi maupun yang lainnya. Universalitas Islam meliputi waktu, tempat dan seluruh bidang kehidupan. Ulama besar Mesir Asy-Syahid Hasan Al Banna berkata “Risalah Islam mempunyai jangkauan yang sangat lebar sehingga berlaku bagi seluruh umat, dan jangkauan yang sangat dalam sehingga mencakup seluruh urusan dunia dan akhirat”.[8]

Kesempurnaan Islam ini ditandai dengan syumuliyatuz zaman (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) dan syumuliyatul makan (semua tempat).

  1. Islam sebagai syumuliyatuz zaman (sepanjang masa) adalah agama masa lalu, hari ini dan sampai akhir zaman nanti.[9] Sebagaimana Islam merupakan agama yang pernah Allah sampaikan kepada para Nabi terdahulu, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: “Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.” (QS. An Nahl 16: 36). Kemudian disempurnakan oleh Allah melalui risalah nabi Muhammad SAW sebagai kesatuan risalah dan nabi penutup. Islam yang dibawa nabi Muhammad SAW dilaksanakan sepanjang masa untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ 34: 28)
  2. Islam sebagai syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) melingkupi beberapa aspek lengkap yang terdapat dalam Islam itu sendiri, misalnya jihad dan da’wah (sebagai penyokong/ penguat Islam), akhlaq dan ibadah (sebagai bangunan Islam) dan aqidah (sebagai asas Islam).[10] Aspek-aspek ini menggambarkan kelengkapan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran 3: 19)
  3. Islam sebagai syumuliyatul makan (semua tempat) karena Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini sebagai satu kesatuan.[11] Pencipta alam ini hanya Allah saja. Karena berasal dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan ketentuan kepada-Nya.  Firman Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dan pencipta alam semesta: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah 2: 163-164)

 

B.     Ruang Lingkup Agama Islam

Secara garis besar ruang lingkup agama Islam mencangkup :

  1. Hubungan Manusia dengan Penciptanya (Allah SWT)

Firman Allah SWT

Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Az-Zariyat: 56)

Hubungan manusia dengan Allah disebut pengabdian (ibadah). Pengabdian manusia bukan untuk kepentingan Allah, Allah tidak berhajat (berkepentingan) kepada siapapun, pengabdian itu bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada asal penciptannya yaitu Fitrah (kesucian)Nya agar kehidupan manusia diridhai oleh Allah SWT.

Firman Allah SWT :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah orang-orang yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

  1. Hubungan Manusia dengan Manusia

Agama Islam memiliki konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan, kemasyarakatan, kenegaraan, perekonomian dan lain-lain. Konsep dasar tersebut memberikan gambaran tentang ajaran-ajaran yang berkenaan dengan: hubungan manusia dengan manusia atau disebut pula sebagai ajaran kemasyarakatan. Seluruh konsep kemasyarakatan yang ada bertumpu pada satu nilai, yaitu saling menolong antara sesama manusia.

Firman Allah SWT:

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”. (QS. Al-Maidah : 2)

Manusia diciptakan Allah terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka hidup berkelompok, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Mereka saling membutuhkan dan saling mengisi sehingga manusia juga disebut makhluk sosial, manusia selalu berhubungan satu sama lain. Demikian pula keragaman daerah asal.

Tidak pada tempatnya andaikata diantara mereka saling membanggakan diri. Sebab kelebihan suatu kaum bukan terletak pada kekuatannya, kedudukan sosialnya, warna kulit, kecantikan/ketampanan atau jenis kelamin. Tapi Allah menilai manusia dari takwanya. Allah berfirman :

Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu ialah yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13)

  1. Hubungan Manusia dengan Makhluk lainnya/Lingkungannya

Seluruh benda-benda yang diciptakan oleh Allah yang ada di alam ini mengandung manfaat bagi manusia. Alam raya ini ada tidak terjadi begitu saja, akan tetapi diciptakan oleh Allah dengan sengaja dan dengan hak. Firman Allah :

Artinya : “Tidaklah kau perhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak?” (QS. Ibrahim : 19)

Dan Firman-Nya :

Artinya: “Wahai Tuhan kami, Tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari api neraka” (QS. Ali Imran : 191)

Manusia dikarunia akal (sebagai salah satu kelebihannya), ia juga sebagai khilafah di muka bumi, namun demikian manusia tetap harus terikat dan tunduk pada hukum Allah. Alam diciptakan oleh Allah dan diperuntukkan bagi kepentingan manusia.

Sebagai khalifah manusia diberi wewenang untuk mengelola  dan mengolah serta memanfaatkan alam ini. Allah berfirman:

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untuk nikmat-Nya lahir dan bathin” (Qs. Luqman: 20)

Juga Firman Allah :

Artinya : “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurannya”. (QS. Hud : 61)

Dua firman Allah di atas menjelaskan bahwa alam ini untuk manusia dan manusia diperintahkan untuk memakmurkannya, serta memanfaatkannya dengan sebagi-baiknya. Hanya saja dalam memanfaatkan alam ini manusia harus mengerti batas-batasnya, tunduk dan patuh pada aturan-aturan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta alam ini.

C.    Ajaran Agama Islam

1.      Ajaran Islam di Bidang Aqidah

Kata aqidah berasal dari kata bahasa Arab ‘aqad, yang berarti ikatan.[12] Menurut ahli bahasa, definisi aqidah adalah sesuatu yang dengan diikatkan hati dan perasaan halus manusia atau yang dijadikan agama oleh manusia dan dijadikan pegangan.[13]

Aqidah Islam adalah aqidah yang lengkap dari sudut manapun. Islam mampu menjelaskan persoalan-persoalan besar kehidupan ini. Aqidah Islam mampu dengan jelas menerangkan tentang Tuhan, manusia, alam raya, kenabian, dan bahkan perjalanan akhir manusia itu sendiri.

Islam tidak hanya ditetapkan berdasarkan instink/ perasaan atau logika semata, tetapi aqidah Islam diyakini berdasarkan wahyu yang dibenarkan oleh perasaan dan logika. Iman yang baik adalah iman yang muncul dari akal yang bersinar dan hati yang bercahaya. Dengan demikian, aqidah Islam akan mengakar kuat dan menghujam dalam diri seorang muslim. Meyakini secara benar bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan meyakini dalam hati, mengucapkan secara lisan dan dibuktikan dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Aqidah Islam adalah aqidah yang tidak bisa dibagi-bagi. Iman seorang mu’min adalah iman 100% tidak bisa 99% iman, 1% kufur. Allah SWT berfirman:

 “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah 2: 85).

2.      Ajaran Islam di Bidang Ibadah

Ibadah dalam Islam menjangkau keseluruhan wujud manusia secara penuh. Seorang muslim beribadah kepada Allah dengan lisan, fisik, hati, akal, dan bahkan kekayaannya.[14]  Lisannya mampu berdzikir, berdoa, tilawah, amar ma’ruf nahi munkar. Fisiknya mengiringi dengan berdiri, ruku’ dan sujud, puasa dan berbuka, berjihad dan berolah raga, membantu mereka yang membutuhkan.

Hatinya beribadah dengan rasa takut (khauf), berharap (raja’), cinta (mahabbah) dan bertawakal kepada Allah. Ikut berbahagia atas kebahagiaan sesama, dan berbela sungkawa atas musibah sesama. Akalnya beribadah dengan berfikir dan merenungkan kebesaran dan ciptaan Allah. Hartanya diinfakkan untuk pembelanjaan yang dicintai dan diperintahkan Allah serta membawa kemaslahatan bersama.

Maha Suci Allah yang telah mengatur  segala sesuatunya dengan baik dan menenteramkan. Seluruh aktivitas seorang muslim akan bernilai ibadah di mata Allah, apabila dijalankan dengan ikhlas dan diniatkan hanya untuk mengharap ridha-Nya. Sehingga kita patut mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabat yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (ibadah), karena mereka yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan limpahan pahala dan sesuatu yang jauh lebih baik di dunia maupun di akhirat (jannah).

3.      Ajaran Islam di Bidang Akhlak

Akhlaq Islam memberikan sentuhan kepada seluruh sendi kehidupan manusia dengan optimal. Akhlaq Islam menjangkau ruhiyah, fisik, agama, duniawi, logika, perasaan, keberadaannya sebagai wujud individu, atau wujudnya sebagai elemen komunal (masyarakat).[15]

Akhlaq Islam meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pribadi, seperti kewajiban memenuhi kebutuhan fisik dengan makan dan minum yang halalan thoyiban serta menjaga kesehatan, seruan agar manusia mempergunakan akalnya untuk berfikir akan keberadaan dan kekuasaan Allah, seruan agar manusia membersihkan jiwanya, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams 91: 9-10).

Hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, seperti hubungan suami istri dengan baik, hubungan anak dan orang tua, hubungan dengan kerabat dan sanak saudara. Semuanya diajarkan dalam Islam untuk saling berkasih sayang dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, seperti seruan untuk memuliakan tamu dan etika bertamu, mengajarkan bahwa tetangga merupakan keluarga dekat, hubungan muamalah yang baik dengan saling menghormati, seruan untuk berjual beli dengan adil, dsb. Menjadikan umat manusia dapat hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.

Kesempurnaan Islam juga mengatur pada akhlaq Islam yang berkaitan dengan menyayangi binatang, tidak menyakiti dan membunuhnya tanpa alasan. Akhlaq Islam yang berkaitan dengan alam raya, sebagai obyek berfikir, merenung dan belajar, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: 190), sebagai sarana berkarya dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Lebih dari itu semua adalah akhlaq muslim kepada Allah SWT, Pencipta, dan Pemberi nikmat, dengan bertahmid, bersyukur, berharap (raja’), dan takut (khauf) terpinggirkan apalagi dijatuhi hukuman, baik di dunia maupun di akhirat.

4.      Ajaran Islam di Bidang Hukum Syariah

Syariah Islam tidak hanya mengurus individu tanpa memperhatikan masyarakatnya, atau masyarakat tanpa memperhatikan individunya. Syariah Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Ada aturan ibadah, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Ada halal dan haram (bahaya-berguna) yang mengatur manusia dengan dirinya sendiri. Ada hukum keluarga, nikah, thalaq, nafkah, persusuan, warisan, perwalian, dsb. Ada aturan bermasyarakat, seperti: jual beli, hutang-piutang, pengalihan hak, kafalah, dsb. Ada aturan tentang tindak kejahatan, minuman keras, zina, pembunuhan, dsb.

Dalam urusan negara ada aturan hubungan negara terhadap rakyatnya, loyalitas ulil amri (pemerintah) yang adil dan bijaksana, bughot (pemberontakan), hubungan antar negara, pernyataan damai atau perang, dsb. Untuk mewujudkan negara yang adil dan sejahtera sesuai dengan tatanan hidup Islam, maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah dalam kehidupan bernegara.

5.      Ajaran Islam dalam Seluruh Aspek Kehidupan

Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bukti kesempurnaannya adalah Islam mencakup seluruh peraturan dan segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu Islam sangat sesuai dijadikan sebagai pedoman hidup. Di antara kelengkapan Islam yang digambarkan dalam Al Qur’an adalah mencakup konsep keyakinan (aqidah), moral, tingkah laku, perasaan, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, militer, hukum/ perundang-undangan (syariah).

Kesempurnaan Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan merupakan satu-satunya diin yang diridhai Allah SWT menjadikannya satu-satunya agama yang benar dan tak terkalahkan.sesuai dengan firman Allah SWT:

“Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS. At Taubah 9: 33).

Beruntunglah bagi setiap manusia yang diberikan hidayah oleh Allah SWT untuk dapat merasakan nikmat ber-Islam dan menjauhkannya dari kesesatan hidup jahiliyah. Rawat dan jagalah nikmat iman dan Islam dengan tarbiyah Islamiyah serta menerapkan Islam secara kaffah, sehingga terwujud kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

Pertama, ajaran Islam bersifat universal dalam artian seluruh aturan ada dan mengikat untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Tidak seperti agama lain yang diturunkan untuk umat agamanya saja, segenap peraturan yang ada dalam Islam tidak hanya untuk umat Islam saja tetapi mengikat juga ke umat lain.

Kedua, Ajaran Islam sempurna, mengingat Islam sebagai agama terakhir telah disempurnakan oleh Alloh sehingga mencakup berbagai dimensi kehidupan baik akidah, politik kemasyarakatan, kebudayaan, pertahanan dan keamanan, sosial kemasyarakatan, ekonomi dan sebagainya.

Ketiga, Ajaran Islam  berwatak harmonis dan seimbang, yakni keseimbangan yang tidak goyah, selaras dan serasi sehingga membentuk ciri khas yang unik. Karenanya ada hukum wajib sebagai bandingan haram, sunah dengan makruh dan ditengahi oleh hukum mubah. Hal lainnya adalah menempatkan kewajiban seiring dengan penuntutan hak, menggunakan harta benda tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dan sebagainya.

 

 

 

 


[1] Thoyib I.M dan Sugiyanto,  Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, h. 23

[2] Ibid

[3] Hamka, Studi Islam, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, h. 1

[4] Ibid

[5] Sayid Sabiq, Al-‘Aqaid Al-Islamiyyah, terj. Indonesia: Aqidah Islam :Pola Hidup Manusia Beriman, Diponegoro, Bandung, 2001, cet. ke -12, h. 19

[6] Ibid

[7] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Hamka, op.cit., h. 3

[13] Ibid

 

Hadits Ahad

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

Hadis dan Sunnah, baik secara struktural maupun fungsional disepakati oleh mayoritas kaum muslimin dari berbagai mazhab Islam sebagai sumber ajaran Islam, karena dengan adanya hadis dan sunnah itulah ajaran Islam menjadi jelas, rinci dan spesifik. Sepanjang sejarahnya, hadis-hadis yang tercantum dalam berbagai kitab hadis yang ada berasal melalui proses penelitian ilmiah yang rumit, sehingga menghasilkan kualitas hadis yang diinginkan oleh para penghimpunnya. Implikasinya, telah terdapat berbagai macam kitab hadis yang sering kali dijumpai keaneka ragaman redaksi (matan hadis) dan sanadnya, karena diantara kolektor hadis tersebut memakai kriteria dan standar masing-masing. Disinilah letak pentingnya pembelajaran hadis agar dapat diketahui bagaimana hadis tersebut diteliti dan lebih dari itu bagaimana meneliti sehingga dapat diketahui tata cara dengan benar pemakaian hadis sebagai dasar amalan.

Jadi dengan adanya studi hadis, umat Islam dapat mengetahui hadis yang Shahih, Hasan, Dlaif dan hadis-hadis palsu. Sebab tidak semua hadis itu boleh diamalkan dan dijadikan sebagai dasar hukum yang baik. Setelah Nabi wafat, banyak orang-orang yang membuat hadis-hadis palsu untuk kepentingan golongannya atau untuk menjatuhkan penguasa. Artinya hadis-hadis diciptakan untuk kepentingan politik semata.

Dengan adanya studi hadis, umat dengan mudah mendapatkan hadis-hadis yang diperlukan sebagai sumber hukum yang sah setelah Al-Qur’an. Begitu juga umat Islam dengan mudah membedakan antara lafaz Al-Quran dengan lafaz hadis, karena sering sekali terjadi akhir-akhir ini yang hadis dikatakan Al-Quran, sebaliknya Al-Quran disebut hadis.

Dalam makalah studi hadis ini penulis akan membahas Hadis Ahad, yang diawali dari pengertian hadis ahad, macam-macam hadis ahad dan contohnya, pendapat ulama tentang hadis ahad dan analisis historis kemunculannya.  Semoga makalah ini bermanfaat buat diri penulis sendiri dan pembaca pada umumnya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Pengertian Hadis Ahad

Kata ahad berarti satu, khabar al-wahid adalah suatu berita yang disampaikan oleh satu orang.[1] Menurut istilah ilmu hadis, hadis ahad berarti “Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis mutawatir.”[2]

Ulama lain mendefinisikannya dengan “hadis yang sanadnya shahih dan bersambung hingga sampai kepada sumbernya (Nabi SAW), tetapi kandungannya memberikan pengertian zhanni dan tidak sampai kepada qat’i atau yakin”.[3]

Dari dua definisi di atas ada dua hal yang harus digaris bawahi yaitu: pertama, dari sudut kuantitas perawinya, hadis ahad berarti berada di bawah kuantitas hadis mutawatir, kedua, dari sudut isinya, hadis ahad memberi faedah zhanni bukan qat’i. kedua hal inilah yang membedakannya dengan hadis mutawatir.

Kedua definisi di atas dikemukakan oleh para ulama yang membagi kuantitas hadis kepada dua, yaitu mutawatir dan ahad. Sedangkan ulama yang membagi kuantitas hadis kepada tiga, yaitu mutawatir, masyhur, dan ahad, memberikan definisi hadis ahad dengan definisi yang berbeda. Menurut mereka, hadis ahad itu, ialah :

ما رواه الواحد أوالإثنان فأكثر مما لم تتوفر فيه شروط المشهور او المتو اتر

Hadis yang diriwayatkan oleh satu orang, atau dua orang, atau lebih, yang jumlahnya tidak memenuhi persyaratan hadis masyhur, atau hadis mutawatir”.[4]

B.     Macam-macam Hadis Ahad dan Contohnya

Pembagian hadis ahad ada tiga macam, yaitu hadis masyhur, aziz dan gharib.

1.    Hadis Masyhur

Kata masyhur dari kata syahara, yasyharu, syahran, yang berarti al-ma’ruf baina an-nas (yang terkenal, atau yang dikenal, atau yang populer di kalangan sesama manusia). Dengan arti kata di atas, maka kata “hadis masyhur”, berarti hadis yang terkenal. Berdasarkan arti kata ini, di antara ulama ada yang memasukan ke dalam hadis masyhur “segala hadis yang populer dalam masyarakat, meskipun tidak mempunyai sanad sama sekali, dengan tanpa membedakan apakah memenuhi kualitas shahih atau dha’if”.[5]

Kata masyhur ini secara bahasa telah diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan utuh. Dalam penggunaannya sehari-hari, baik dalam ragam tulis maupun ragam lisan, kata ini digunakan secara baku.

Berdasarkan pendekatan kebahasaan seperti di atas, maka dikalangan para ulama terdapat beberapa macam hadis yang terkenal di kalangan ulama tertentu. Tanpa memperhatikan apakah jumlah kuantitas sanadnya memenuhi syarat kemasyhurannya atau tidak, misalnya hadis yang berbunyi :

 

نَهَى رَسُوْلُ الله ص م عَنْ بَيْعِ الْغَرَر (رواه المسلم )

“Rasulullah SAW melarang jual-beli yang di dalamny;a terdapat tipu daya”.[6]

Hadis di atas terkenal dikalangan ulama fiqih. Demikian pula hadis yang menjelaskan, bahwa perceraian itu dibenci Allah SWT meskipun hukumnya halal. Hadis ini juga terkenal di kalangan ahli fiqh, yang padahal di kalangan ahli hadis, kualitasnya diperselisihkan.

Ada juga hadis yang terkenal dikalangan ulama, seperti hadis yang berbunyi :

اَلْمُسْلِمُ مِنْ سَلَمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهَ وَ يَدِهِ

Orang Islam (yang sempurna) itu, ialah orang yang jika orang Islam lainnya selamat dari (gangguan) lidah dan tangannya.[7]

Secara terminologis, hadis masyhur didefinisikan oleh para ulama dengan beberapa definisi yang agak berbeda-beda, sebagaimana dibawah ini.

Menurut satu definisi, disebutkan sebagai berikut:

 ما له طرق محصورة بأكثر من إثنين ولم يبلغ حد التواتر

“Hadis yang mempunyai jalan yang terhingga, tetapi lebih dari dua jalan dan tidak sampai kepada batas hadis yang mutawatir.” [8]

Menurut definisi lain, disebutkan:

خبر جماعة لم يبلغوا في الكثرة مبلغ جماعة المتواتر

Hadis yang disampaikan oleh orang banyak, akan tetapi jumlahnya tidak sebanyak perawi mutawatir”.[9]

Ada juga yang mendefinisikan, bahwa hadis masyhur itu ialah “hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih. Meskipun perawi sejumlah itu hanya pada satu thabaqah saja, sementara perawi pada thabaqah-thabaqah lainnya berjumlah lebih banyak”.[10]

Dari ketiga definisi di atas dapat dikatakan, bahwa perawi hadis masyhur jumlahnya dibawah hadis mutawatir. Artinya, jumlah perawi pada hadis ini banyak, akan tetapi dari jumlah tersebut belum sampai memberikan faidah ilmu dharuri, sehingga kedudukan hadisnya menjadi zhanni. Hadis ini dinamakan masyhur karena telah tersebar luas kalangan masyarakat.

Ulama Hanafiyah mengatakan, bahwa hadis masyhur menghasilkan ketenangan hati, dekat kepada keyakinan dan wajib diamalkan, akan tetapi bagi yang menolaknya tidak dikatakan kafir.

Dari sudut kualitasnya, hadis masyhur ada yang shahih, ada yang hasan, dan ada yang dha’if. Hadis masyhur yang shahih, artinya hadis masyhur yang memenuhi syarat-syarat ke-shahih-annya; Hadis masyhur yang hasan, artinya hadis masyhur yang kualitas perawinya di bawah hadis masyhur yang shahih; sedang hadis masyhur yang dha’if, artinya hadis masyhur yang tidak memiliki syarat-syarat atau yang kurang salah satu syaratnya dari syarat hadis shahih.

Sebagaimana layaknya hadis ahad, hadis masyhur yang shahih dapat dijadikan hujah. Sebaliknya, hadis masyhur yang dha’if atau yang gair ash-shahih, niscaya tidak dapat dijadikan hujah. Di antara contoh hadis masyhur yang shahih ialah:

من أتى الجمعة فليغتسل (رواه الجماعة)

Bagi siapa yang hendak pergi melaksanakan salat jum’at hendaknya ia mandi[11]

2.    Hadis Aziz

Kata ‘Aziz dari kata ‘azzu, yang berarti qalla (sedikit) atau nadara (jarang terjadi). Bisa juga berasal dari ‘azza, ya ‘azzu yang berarti qawiya atau isytadda (kuat). Arti lainya bisa juga berarti syarif (mulia atau terhormat) dan mahbub (tercinta). Maka hadis ‘Aziz dari sudut pendekatan kebahasaan, bisa berarti hadis yang mulia, hadis yang kuat, atau hadis yang sedikit, atau yang jarang terjadi.

Secara terminologis, hadis ‘Aziz didefinisikan :

Hadis yang diriwayatkan oleh sedikitnya dua orang pe-rawi, diterima dari dua orang pula”.[12]

Dengan definisi di atas, menunjukkan bahwa apabila dalam salah satu thabaqahnya kurang dari dua perawi, hadis tersebut bukan termasuk hadis ‘Aziz. Sebab, jumlah minimal para perawi untuk hadis ‘Aziz, adalah dua orang. Dengan definisi itu juga menunjukkan, apabila ada satu atau dua thabaqahnya yang memiliki tiga atau empat orang perawi, hadis tersebut masih termasuk ke dalam kelompok hadis ‘Aziz, jika pendapat thabaqah-thabaqah lainnya hanya terdapat dua orang perawi saja. Sebab hadis ‘Aziz tidak mengharuskan ata mensyaratkan adanya keseimbangan antara thabaqah-thabaqah-nya.

Sebagaimana hadis masyhur, hadis ‘Aziz terbagi kepada shahih, hasan, dan dha’if. Pembagian ini tergantung kepada terpenuhi atau tidaknya ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat yang berkaitan dengan kualitas ketiga kategori tersebut. Jika hadis tersebut memenuhi syarat keshahihannya, maka itu berarti hadis ‘Aziz yang shahih. Kemudian, jika kualitas ke dhabith-annya kurang, hadis itu berarti hadis ‘Aziz yang hasan, dan jika syarat-syarat atau salah satu syarat kesahihannya tidak terpenuhi, maka hadis itu berarti termasuk hadis ‘Aziz yang dha’if.

Diantara contoh hadis ‘Aziz, adalah:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه و والده و ولده والناس أجمعين (رواه بخارى و مسلم)

 

Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, hingga aku lebih dicintai daripada dirinya, orang tuanya, anaknya dan semua manusia.” (H.R. Bukhari dan Muslim)[13]

Hadis tersebut diterima oleh Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, kemudian diriwayatkan kepada Qatadah dan Abdul Aziz bin Suhaib, selanjutnya Qatadah meriwayatkan kepada dua orang pula, yaitu Syu’bah dan Husain al-Muallim. Hadis dari Abdul Aziz diriwayatkan oleh dua orang, yaitu Abdul al-Waris dan Ismail bin Ulaiyah. Kemudian hadis dari Husain diriwayatkan oleh Yahya bin Said dan dari Syu’bah diriwayatkan oleh Adam Muhammad bin Ja’far dan juga oleh Yahya bin Said. Adapun hadis dari Ismail diriwayatkan oleh Zuhair bin Harb dari Abdul al-Waris diriwayatkan oleh Syaiban bin Abi Syaiban. Dari Yahya diriwayatkan oleh Masdad dan dari Ja’far diriwayatkan oleh Ibn al-Mujana dan Ibn Basyar, sampai kepada Bukhari dan Muslim.

3.    Hadis Garib

a.      Pengertian Hadis Garib

Kata garib dari garaba, yagrubu, yang menurut bahasa berarti munfarid (menyendiri) atau ba’id an wathanih (jauh dari tanah airnya). Bisa juga berarti asing, pelik, atau aneh. Maka kata hadis garib secara bahasa berarti hadis yang menyendiri atau yang aneh.[14]

Secara terminologis, ulama ahli hadis, seperti Ibn Hajar al-Asqali mendefinisikan hadis garib, sebagai berikut:

مَا يَتَفَرَّدُ بِرِ وَ ايَتِهِ شَخْصٌ وَاحِدٌ فِيْ أَيِّ مَوْضِعٍ وَقَعَ التَّفَرُّدُ بِهِ مِنَ السَّنَدِ

Hadis yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya, dimana saja penyendirian itu terjadi[15]

Dalam pengertian lain disebutkan, sebagai berikut:

مَا اِنْفَرَدَ بِرِ وَايَتِهِ رَاوٍ بِحَيْثُ لَمْ يَرْوِهِ غَيْرُهُ أَوِ اِنْفَرَدَ بِزِيَادَةٍ فِيْ مَتَنَِهِ أَوْ إِسْنَادِهِ

Hadis yang diriwayatkan oleh seorang diri perawi, karena tidak ada orang lain yang meriwayatkannya, atau menyendiri dalam hal penambahan terhadap matan atau sanadnya[16]

Berdasarkan definisi pertama menunjukkan, bahwa penyendirian yang dimaksud dalam hadis garib, ialah penyendirian dalam perawi atau sanadnya. Sedangkan berdasarkan definisi kedua, bahwa penyendirian dalam hadis garib bukan hanya terjadi pada sanad atau perawi, akan tetapi bisa juga terjadi pada matanya. Pada sisi lainnya, sebagaimana disebutkan pada definisi pertama, bahwa penyendirian itu bisa terjadi pada thabaqah mana saja. Suatu hadis jika diriwayatkan oleh banyak orang pada beberapa thabaqahnya, akan tetapi pada salah satu thabaqahnya hanya diriwayatkan oleh satu orang, maka hadis itu pun disebutkan dengan hadis garib.

Tempat-tempat penyendirian dimaksud bisa jadi pada awal, tengah-tengah, atau akhir thabaqahnya. Dengan kata lain, bisa jadi pada thabaqah sahabat, thabaqah tabi’in, thabaqah tabi’ at-tabi’in, atau thabaqah sesudahnya.

b.      Pembagian Hadis Garib

Ada dua macam pembagian hadis garib, yaitu: pertama, dilihat dari sudut bentuk penyendirian perawinya, dan kedua, dilihat dari sudut kaitannya antara penyendirian pada sanad dan pada matan.[17] Dilihat dari bentuk penyendirian perawinya, hadis garib terbagi kepada dua bagian, yaitu garib muthlaq dan garib nisbi. Kemudian, dilihat dari sudut kaitannya antara penyendirian pada sanad dan matan terbagi kepada dua bagian pula, yaitu garib pada sanad dan matan secara bersama dan garib pada sanad saja.

1)      Hadis garib dilihat dari sudut penyendirian perawi

a)      Hadis garib muthlaq

Disebut garib muthlaq, artinya penyendirian itu terjadi berkaitan dengan keadaan jumlah personilnya, yakni tidak ada orang lain yang meriwayatkan hadis tersebut, kecuali dirinya sendiri.

Mengenai garib mutlaq ini, diantara para ulama terjadi perbedaan pendapat, apakah penyendirian pada thabaqah sahabat juga termasuk ke dalam kategori hadis garib atau tidak. Dengan kata lain, thabaqah sahabat atau tidak. Menurut sebagaian ulama, ke-garib-an sahabat juga termasuk, sehingga apabila suatu hadis diterima dari Rasul hanya oleh seorang sahabat (misalnya hanya oleh Abu Hurairah sendiri atau Siti A’isyah sendiri), hadis tersebut juga disebut garis, meskipun pada thabaqah-thabaqah berikutnya diterima oleh beberapa orang. Dalam hal ini bisa dilihat misalnya hadis tentang niat, yang berbunyi:

إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امر ئ ما نوى (رواه البخارى)

Segala amal itu hanya dengan niat, dan bagi seseorang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan …”.[18]

Hadis di atas diriwayatkan oleh banyak perawi, antara lain al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Turmudzi, an-Nasai’i dan Ibn Majah. Pada tiap-tiap thabaqahnya, hadis tersebut diriwayatkan oleh banyak perawi. Akan tetapi pada thabaqah sahabat hanya diriwayatkan oleh satu orang perawi, yaitu Umar bin Khathab. Dengan demikian, menurut ulama yang memandang adanya ke-garib-an sahabat, hadis di atas termasuk ke dalam hadis garib. Namun perlu diketahui, bahwa meskipun hadis ini dikategorikan ke dalam kelompok garib, akan tetapi sanad yang dilaluinya tergolong ashah-al-asanid (sanad hadis yang paling shahih).

Menurut sebagian ulama lainnya, berpendapat bahwa penyendirian sahabat tidak termasuk ke dalam hadis garib. Ke-garib-an hadis menurut mereka, hanya diukur pada thabaqah tabi’in (misalnya pada Ibn Syihab az-Zuhri) dan thabaqah-thabaqah berikutnya. Dengan demikian, suatu hadis baru bisa dikategorikan ke dalam hadis garib apabila terjadi penyendirian pada thabaqah tabi’in, atau thabaqah-thabaqah berikutnya. Oleh karena itu, hadis pada contoh di atas, bukanlah termasuk hadis garib, melainkan hadis masyhur.

Contoh hadis garib muthlaq, antara lain :

الو لاء لحمة كلحمة النسب لايباع ولا يوهب

Kekerabatan dengan jalan memerdekakan, sama dengan kekerabatan dengan nasab, tidak boleh dijual dan dihibahkan”.[19]

Hadis ini diterima dari Nabi oleh Ibn Umar dan dari Ibn Umar hanya Abdullah bin Dinar saja yang meriwayatkannya.

b)      Hadis Garib Nisbi

Disebut garib nisbi, artinya kata garib yang relatif. Ini maksudnya, penyendirian itu bukan pada perawi atau sanadnya, melainkan mengenai sifat atau keadaan tertentu, yang berbeda dengan perawi lainnya. Maka pada hadis garib yang termasuk kategori ini, dari sudut personaliannya, pada dasarnya bukan sendirian, tetapi ada perawi lainnya.

Penyendirian seorang perawi seperti di atas, bisa pada ke adilan dan ke-dhabhit-annya, atau pada tempat tinggal atau kota tertentu. Misalnya, hadis itu tidak diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah kecuali si pulan. Maka si pulan berarti garib dalam ke-tsiqah-annya dari perawi lainnya. Atau misalnya, hadis itu tidak diriwayatkan oleh penduduk ahli Madinah kecuali si-pulan. Maka si-pulan berarti garib dalam meriwayatkan hadis tersebut dari penduduk madinah.

Contoh hadis garib nisbi berkenaan dengan kesiqahan perawi, antara lain sebuah hadis yang menjelaskan, bahwa Rasul SAW pada salat hari raya qurban dan hari raya fitrah membaca surat Qaf dan surat al-Qamar. Hadis ini diriwayatkan melalui dua jalur, yaitu jalur Muslim dan jalur Daruquthi. Melalui jalur Muslim, ia menerima dari Malik, Dumrah bin Sa’id, Ubaidillah, dan Abu Waqid al-Laitsi yang menerima langsung dari Nabi SAW. Sedang melalui jalur ad-Daruqutni, ia menerima dari Ibn Lahi’ah, Khalid bin Yazid, Urwah, dan A’isyah, yang langsung menerima dari Nabi.

Pada silsilah sanad yang pertama, Dumrah bin Sa’id disifati sebagai seorang perawi yang tsiqah. Sedang Ibn Lahi’ah pada silsilah kedua, dalam thabaqah yang sama dengan Dumrah bin Sa’id dinilai lemah. Ini artinya, perawi yang meriwayatkan hadis ini pada thabaqah yang sama dengan dia, hanya dia sendiri yang tsiqah. Dengan demikian, hadis ini disebut garib.

2)       Hadis garib dilihat dari sudut kegariban sanad dan matannya

Dilihat dari sudut ke-garib-an pada sanad dan pada matan, hadis garib terbagi kepada dua, yaitu, pertama ke-garib-an pada sanad dan matan secara bersama-sama, dan kedua, ke-garib-an pada sanad saja.

a)      Garib pada sanad dan matan secara bersama-sama

Yang dimaksud dengan garib pada sanad dan matan secara bersama-sama, ialah hadis garib yang hanya diriwayatkan oleh satu silsilah sanad, dengan satu matan hadisnya. Salah satu contoh, ialah hadis yang menjelaskan, bahwa ada dua kalimat yang disenangi oleh Allah, yang ringan diucapkan, akan tetapi berat dalam timbangan kebajikannya, yaitu kalimat “Subhana Allah wa bihamdih subhana Allah al-azhim” (Maha Suci Allah seraya memanjatkan puji kepada-Nya, dan Maha Suci Allah yang Maha Agung).[20]

Hadis di atas diriwayatkan oleh al-Bukhori, Muslim, Ibn Majah, dan at-Turmudzi dengan silsilah sanadnya: al-Bukhori menerima dari Ahmad bin Asykab, dari Muhammad bin Fudhail, dari Umarah bin al-Qa’qa’, dari Abu Zur’ah dan terakhir dari Abu Hurairah. Para pe-rawi lainnya juga meriwayatkan dengan menggunakan silsilah sanad yang sama. At-Turmudzzi menyatakan bahwa hadis ini adalah garib, karena hanya rawi-rawi itulah yang meriwayatkannya.

b)      Garib pada sanad saja

Yang dimaksud dengan garib pada sanad saja, ialah hadis yang telah populer dan diriwayatkan oleh banyak sahabat, tetapi ada seorang rawi yang meriwayatkannya dari salah seorang sahabat yang lain yang tidak populer. Periwayatan hadis melalui sahabat yang lain seperti ini disebut sebagai hadis garib pada sanad.

 C.    Pendapat Para Ulama tentang Hadis Ahad

Para ahli hadis berbeda pendapat tentang hadis ahad, pendapat tersebut adalah:

  1. Segolongan ulama seperti Al-Qasayani, sebagai ulama dhahiriyah dan Ibn Daud, mengatakan bahwa kita tidak wajib beramal dengan hadis ahad.
  2. Jumhur Ulama Ushul menetapkan bahwa hadis ahad memberikan faedah dhan. Oleh karena itu, hadis ahad wajib diamalkan sesudah diakui kesahihannya
  3. Sebagian ulama menetapkan bahwa hadis ahad diamalkan dalam segala bidang.
  4. Sebahagian muhaqqiqih menetapkan bahwa hadis ahad hanya wajib diamalkan dalam urusan amaliyah (furu’), ibadah, kaffarat dan hudud, namun tidak digunakan dalam urusan aqidah.
  5. Imam Syafi’i berpendapat bahwa hadis ahad tidak menghapuskan suatu hukum dari hukum-hukum Al Quran.
  6. Ahlu Zhahir (Pengikut Daud Ibn Ali al-Zhahiri) tidak membolehkan mentakhsiskan umum ayat-ayat Al Quran dengan hadis ahad.[21]

Selanjutnya status dan hukum hadis masyur menjadi bagian dari hadis ahad.  Hukum hadis masyur tidak ada hubungannya dengan sahih atau tidaknya suatu hadis, karena diantara hadis masyur terdapat hadis yang mempunyai status sahih, hasan atau dhaif dan bahkan ada maudhu’ (palsu). Akan tetapi, apabila suatu hadis masyur tersebut berstatus sahih, maka hadis masyur itu hukumnya lebih dari pada hadis ‘Aziz dan garib.

Di kalangan Ulama Hanafiyah, hadits masyur hukumnya adalah zhann, yaitu mendekati yakin sehingga wajib beramal dengannya. Akan tetapi, karena kedudukannya tidak sampai pada derajat mutawatir, maka tidaklah dihukumkan kafir bagi orang yang menolak atau tidak beramal dengannya.

Selain hadis masyur yang dikenal secara khusus di kalangan ulama hadis, sebagaimana yang telah dikemukakan definisinya diatas dan disebut dengan masyur al-ishthilahi, juga terdapat hadis masyur yang dikenal di kalangan ulama lain selain ulama hadis dan di kalangan umat secara umum. Hadis masyur dalam bentuk yang terakhir ini disebut dengan al-masyur gaira isthilahi yang mencakup hadis-hadis yang sanadnya terdiri dari satu orang perawi atau lebih pada setiap tingkatannya atau bahkan yang tidak mempunyai sanad sama sekali.

Dengan demikian, hadis masyur ada yang sesuai dengan pendapat ulama dan ada pula pendapat para fuqaha.

Hadis masyur di kalangan ahli hadis, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih. Contohnya adalah hadis yang berasal dari Anas r.a. dia berkata :

Artinya :  “Muhammad ibn Al-Fadil menceritakan Muhammad ibn Ja’far menceritakan kepada kami Ibrahim ibn Yusuf menceritakan kepada kami An-Nadir ibn ‘Asy’ast menceritakan bahwa sanya Rasulullah SAW bersabda : tidak akan masuk surga kecuali orang yang mempunyai rasa kasih sayang. Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, kami semua mempunyai rasa kasih sayang . Beliau bersabda : (yang dimaksud) bukanlah kasih sayang   salah seorang diantara kamu terhadap dirinya sendiri saja, akan tetapi rasa kasih sayang terhadap semua manusia. Dan tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap semua manusia dan tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap mereka kecuali Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari)[22]

[1]Muhammad ash-Shabbaq, Al-Hadits an-Nabawi; Mushthalahuh Balagatuh, ‘Ulumuh, Khutub, Mansyurat al-Maktab al-Islami, t.t., 1392H/1972M, h.21

[2]Mahmud ath-Thahhan, Taisir Mushalah al-Hadits, Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyah, Beirut, t.t. h. 22

[3] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Mabahits al-Kitab wa as-Sunnah min ‘Ilmi, Mahfud li Jami’ah, Damsyik, h. 17-18

[4] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits; ‘Ulumuh wa Musthalahuh, Dar al-Fikr, Beirut, 1989 M/1409 H, h. 302

[5] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, Jakarta : Gaya Media Pratama, 1996, h. 137

[6] Muslim, Abu al-Husain bin al Hajjaj  al-Qusyairi an Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid I,  Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992 M, h. 3

[7] Jalal ad-Din Abd ar-Rahman bin Abi Bakar as-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an Nawawi, Juz. I, Dar al-Fikr, Beirut, 1988, h. 42

[8] Nur ad-Din ‘Atar, Manhaj an-Naqdi fi ‘Ulum al-Hadits.,Dar al-Fikr, Beirut, 1979, h. 409

[9] Muhammad Ash-Shabbaq, op.cit, h. 182

[10] Muhammad bin Alwi al-Maliki, al-Manhal al-Lathif fi Ushul al-Hadits asy-Syarif, Sihr, t.t. , h. 97

[11] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari,  Matan al-Bukhari bihasyiah as-Sindi, Jilid II, Syirkah Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nubhan  wa Auladuh, h. 2,3,5 dan Muslim, Jilid III, h.2

[12] Ibnu Hajar al-Asqalani, Nubhah al-Fikr, h. 32

[13] Bukhari, jilid I, h. 8 dan Muslim, Jilid I, h. 49

[14] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, op.cit, h. 145

[15] Ibn Hajar al-Asqalani, Nuhbah al-Fikr,

[16] Muhammad bin Alwi al-Maliki,………., h. 91

[17] Untung Ranuwijaya, op.cit., h. 146

[18] Al-Bukhari, Jilid I, op.cit, h. 2. Lihat juga Muslim, Jilid II, op.cit, h. 223

[19] Muhammad  Alwi al-Maliki, loc. cit

[20] Muhammad Alwi Maliki, ………………………., h.

[21] M. Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis

[22] Abu Abdullah bin Muhammad Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari

Hadits Shohih

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

Hadis mutawatir memberikan faedah “yaqin bi’-qath’i” (positif–positifnya), bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan iqrar (persetujuan)nya di hadapan para sahabat, berdasarkan sumber-sumber yang banyak sekali, yang mustahil mereka sama-sama mengadakan kesepakatan untuk berdusta. Oleh karena sumber-sumbernya sudah menyakinkan akan kebenarannya, maka tidak perlu diperiksa dan diselidiki dengan mendalam. Berlainan dengan hadis ahad, yang memberikan faedah “dhanny” (prasangka yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kepada kita untuk mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan yang seksama, di samping keharusan mengadakan penyelidikan mengenai segi-segi lain, agar hadis ahad tersebut dapat diterima sebagai hujjah atau ditolak, bila ternyata terdapat cacat-cacat yang menyebabkan penolakan. Dari segi ini, hadis ahad terbagi menjadi tiga bagian, yaitu hadis shahih, hasan, dan dha’if. Jadi makalah ini mencoba membahas sedikitnya lebih lanjut  tentang hadis shahih.

 BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Pengertian Hadis Shahih

Shahih menurut bahasa berarti “sehat”, sedang menurut istilah ialah hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tidak syadz dan tidak pula terdapat billat (cacat) yang merusak.[1] Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar, yang dimaksud dengan “hadis shahih adalah hadis yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak janggal”.[2]

Pendapat lain mengatakan, hadis shahih adalah “hadis yang muttashil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil dan dhabith (kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya, selamat dari kejanggalan (syadzdz) dan cacat (‘illat)”.[3]

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa hadis shahih adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dengan sanadnya yang bersambung dan mempunyai daya ingat yang kuat atau sempurna serta tidak terdapat cacat yang dapat merusak keshahihan suatu hadis.

B.     Syarat-syarat Hadis Shahih

Para ahli hadis seperti Ibnu Ash-Shalah (w.643/1245), An-Nawawi, (w.676/1277), Ibnu Katsir (w.774), Ibnu Hajar Al-ASqalani (w. 852/1449), Jalal Ad-Din AS-Suyuthi (w. 911/1505) dan lain-lain telah mengajukan definisi yang mereka ajukan mewakili apa yang (diduga) telah diterapkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Definisinya dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) kesinambungan periwayatan, (b) rawi-rawinya adil, (c) rawi-rawinya sempurna kedhabitannya, (d) isnad dan matan harus bebas dari kejanggalan (syadzdz), (e) isnad dan matan harus bebas dari cacat (‘Illah). Semua syarat ini akan diuraikan secara kritis berikut ini.

  1. Kesinambungan periwayatan

Bahwa kesinambungan jalur periwayatan berarti semua perawi dalam jalur periwayatan dari awal (mukharijj) sampai akhir (sahabat) telah meriwayatkan hadis dengan cara yang dapat dipercaya menurut konsep tahammul wa ada’ al hadis. Maksudnya, “setiap perawai dalam jalur periwayatan telah meriwayatkan hadis tertentu langsung dari perawi sebelumnya dan semua perawi adalah tsiqah, yakni ‘adl (adil) dan dhabith (kuat ingatan)”.[4]

  1. Rawi-rawinya adil

Adil adalah perangai yang senantiasa menunjukkan pribadi yang yaqwa dan muru’ah (menjauhkan diri dari sifat atau tingkah laku yang tidak pantas untuk dilakukan). Yang dimaksud adil disini ialah adil dalam hal meriwayatkan hadis, yaitu orang Islam yang miskallah (cakap bertindak hukum) yang selamat dari fasiq, gila dan orang yang tidak pernah dikenal, tidak termasuk orang yang adil, sedangkan orang perempuan budak, dan anak yang sudah baligh biasa digolongkan orang yang adil apabila memenuhi kriteria tersebut.

  1.  Rawi-rawinya sempurna kedhabitannya

Yang dimaksud sempurna ke-dhabit-annya ialah ke-dhabit-an pada tingkat yang tinggi, artinya bahwa ingatannya lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya lebih banyak daripada kesalahannya. Kalau seseorang mempunyai ingatan yang kuat, sejak dari menerima sampai kepada menyampaikannya kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja dikehendaki, disebut orang yang dhabithu’sh-shadri.[5]

Dalam hal ini dhabit ada dua macam, yaitu:

  1. Dhabit hati. Seseorang dikatakan dhabit hati apabila dia mampu menghafal setiap hadis yang didengarnya dan sewaktu –waktu dia bisa mengutarakan atau menyampaikannya.
  2. Dhabit kitab. Seseorang dikatakan dhabit kitab apabila setiap hadis yang dia riwayatkan tertulis dalam kitabnya yang sudah ditashih (dicek kebenarannya) dan selalu dijaga.[6]

 

  1.  Bebas dari Syadzudz

Syadzudz disini ialah hadis yang diriwayatkan oleh seseorang rawi yang terpercaya, itu tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang tingkat dipercayanya lebih tinggi.[7]

Dalam karangan Dr. Phil Komaruddin Amin, MA, hadis syadzudz, menurut Asy-Syafi’i adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, tetapi bertentangan dengan hadis riwayat orang-orang yang dianggap lebih dapat dipercaya darinya.[8] Sebuah hadis diriwayatkan hanya oleh satu perawi yang dipercaya dan tidak didukung oleh perawi-perawi yang lain, tidak dapat dianggap hadis syadzudz. Dengan kata lain, “perawi tunggal” (faid muthlaq) tidak mempengaruhi keterpercayaan hadis sepanjang hadis tersebut diriwayatkan oleh perawi yang dapat dipercaya.

  1. Bebas dari ‘illat

Hadis ma’lul atau cacat adalah hadis yang tampak shahih pada pandangan pertama, tetapi ketika dipelajari secara seksama dan hati-hati ditemukan faktor-faktor yang dapat membatalkan keshahihannya.[9] Faktor tersebut misalnya, seorang perawi meriwayatkan sebuah hadis dari seseorang guru, padahal kenyataannya ia tidak pernah bertemu dengannya, atau menyadarkan sebuah hadis kepada sahabat tertentu, padahal sebenarnya berasal dari shabat lain.[10]Illat disini ialah cacat yang samar yang mengakibatkan hadis tersebut tidak dapat diterima.

C.    Macam-macam Hadis Shahih

Hadis shahih dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :

  1. Shahih lidzatih (shahih dengan sendirinya), karena telah memenuhi 5 kriteria hadis shahih sebagaimana definisi, contoh, dan keterangan di atas.
  2. Shahih lighayrih (shahih karena yang lain), yaitu:

هُوَ الْحَسَنُ لِذَاتِهِ إِذَا رُوِيَ مِنْ طَرِيْقٍ اَخَرَ مِثْلُهُ أَوْ أَقْوَى مِنْهُ

“Hadis shahih lighayrih adalah hadis hasan lidzathi ketika ada periwayatan melalui jalan lain yang sama atau lebih kuat dari padanya”.[11]

Jadi hadis shahih lighayrih, semestinya sedikit tidak memenuhi persyaratan hadis shahih ia baru sampai tingkat hadis hasan, karena di antara perawi ada yang kurang sedikit hapalannya dibandingkan dalam hadis shahih, tetapi karena diperkuat dengan jalan/sanad lain, maka naik menjadi shahih li ghayrih (shahih-nya karena yang lain). Kualitas sanad lain terkadang sama-sama hasan atau lebih kuat lagi yakni shahih.

Contoh, hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi melalui jalan Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةِ

Seandainya aku tidak khawir memberatkan atas umatku, tentu aku perintah mereka bersiwak ketika setiap shalat”.[12]

Hadis di atas berkualitas hasan lidzatih, karena semua perawinya bersifat tsiqah (adil dhabith) selain Muhammad bin Amr, ia bertitel: shaduq (banyak benarnya). Tetapi hadis ini mempunyai jalan lain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim melalui jalan Abu Az-Zanad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah. Maka hadis di atas kualitasnya dapat naik menjadi shahih lighayrih.

 

  1. D.    Hukum-hukum Hadis Shahih

Adapun hukum-hukum hadis shahih adalah sebagai beirkut:

a.       Berakibat kepastian hukum. Hal ini apabila hadis tersebut terdapat pada shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pendapat yang dipilih dan dibenarkan oleh Ibnu Al-Shalah.

b.      Imperatif diamalkan. Menurut Ibnu Hajar dalam kitab syarah Al-Nuhbah, wajib mengamalkan setiap hadis yang shahih, meskipun hadis dimaksud tidak termasuk yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

c.       Imperatif untuk menerimanya. Menurut Al-Qasim dalam kitab qawa’idu Al-Thadis, bahwa wajib menerima hadis shahih walaupun hadis shahih itu tidak pernah diamalkan oleh seorang pun.

d.      Imperatif segera diamalkan tanpa menunggu sampai adanya dalil yang bertentangan. Menurut Syekh Al-Fallani di dalam kitab Liqaadzu Al-Himami, bahwa mengamalkan hadis shahih tidak usah menunggu mengetahui tidak adanya sanasikh (hadis lain yang menganulir), atau tidak adanya ijma’ atau dalil-dalil lain yang bertentangan dengan hadis itu. Akan tetapi, harus segera diamalkan sampai benar-benar diketahui adanya dalil-dalil yang bertentangan dengannya dan kalau toh ada maka harus diadakan penelitian terlebih dahulu.

e.       Hadis shahih tidak membahayakan. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Ighaatsatu Al-Lahfan, bahwa hadis shahih walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja, tidak membahayakan, yakni tidak mengurangi kadar keshahihannya

f.       Tidak harus diriwayatkan oleh orang  banyak. Hadis yang shahih tidak pasti diriwayatkan oleh orang banyak, sebagai dasarnya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Muadz yang berbunyi sebagai berikut:

مَا مِنْ اََدٍ يَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ اِلاَّ حَرَّمَهُالله ُ عَلَ النَّارِ فَقَالَ مُعَاذُ: يَارُسُوْلُ اللهِ اَفَلاَ أُخْبِرُبِهِ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ صلعم اِذَا يَتَكَّلُوا فَأَخْبَرَ هُمْ مُعَاذُ عِنْدَ مَوْتِهِ

“Tidak seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali Allah mengharamkanya masuk neraka. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya hadis ini aku beritahukan kepada orang-orang supaya mereka bergembira?” Nabi saw menjawab,” Hadis tersebut baru di ceritakan kepada orang-orang oleh Mu’adz menjelang wafatnya karena takut berdosa jika tidak mengamalkannya.[13]

 

Imam Bukhari meriwayatkan secara ta’liq dari sahabat Ali ra:

حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَغْرِفُونَ اَتُحَبُّوْ اَنَ  يُكَذَّبَ الله ُ وَرَسُولُهُ

Ceritakanlah (hadis) kepada orang-orang sesuai dengan pengetahuannya, apakah kalian senang, Allah dan RasulNya didustakan?”[14]

 

Ibnu Mas’ud juga berkata :

مَااَنْتَ مُحَدِّثٌ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تِبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ اِلاَّ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ (رواه مسلم)

Engkau tidak boleh menceritakan kepada suatu kaum sesuatu hadis yang tidak terjangkau oleh akal mereka, melainkan hanya akan menimbulkan fitnah di antara mereka,” (HR.Muslim).[15]

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, di antara ulama yang tidak suka menceritakan hadis secara sepotong-sepotong dengan maksud-maksud tertentu, di antaranya untuk menghindari kewajiban-kewajiban atau menghilangkan hukum-hukum, tindakannya itu akan menimbulkan kerusakan dunia dan akhirat. Bagaimana mereka sampai bida berbuat demikian, padahal semestinya semakin giat pula ibadahnya. Seperti halnya ketika Nabi saw ditanya, “Mengapa engkau selalu Qiyaamu Al-Lail padahal Allah SWT telah memaafkan engkau? Kontan Nabi saw menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

E.     Pembagian dan Tingkatan-tingkatan Hadis Shahih

Derajat hadis shahih itu bertingkat-tingkat sebab bertingkat-tingkat sifat adil, dhabit, dan sifat-sifat lain yang menjadi syarat-syarat keshahihanya. Apabila rawi-rawi hadis shahih itu mempunyai sifat dhabit, adil, dan sifat-sifat lain yang menjadi sifat keshahihannya tinggi, maka hadis itu lebih shahih tingkatannya. Itulah sebabnya ulama Syakh Abdullah bin Ibrahim Al-Alawi menghimpun tingkatan-tingkatan hadis shahih didalam nadham kitabnya yang berjudul Thal’afu Al-Anwar, sebagai berikut:

اَعْلَى الصَّحِيْحِ مَاعَلَيْهِ اِتِّفَاقَا               فَمَا رَوَى الجُعْفِيُّ فَرْدًا يُنْتَقَى

فَمُسْلِمٌ كَذَا لِكَ فِى الشَّرْطِ عُرِف          فَمَالِشَرْطِ غَيْرِذَيْبِ يَكْتَنِفَ

Setinggi-tinggi hadis shahih ialah yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim, lalu yang bersih diriwayatkan oleh Al-Ju’fi (Al-Bukhari) seorang diri, kemudian yang diriwayatkan oleh Muslim dalam syarat yang diketahui adalah seperti itu, selanjutnya yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini dengan melingkupi syarat-syarat selain dari syarat-syarat keduanya.[16]

 

Dari nadham di atas dapat dipahami tingkatan keshahihan dari suatu hadis dari yang tertinggi sampai dengan tingkat yang terendah, yaitu sebagai berikut :

  • Hadis shahih yang paling tinggi derajatnya ialah yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim, yaitu menempati tingkatan hadis shahih yang pertama.
  • Kemudian hadis shahih yang diriwayatkan oleh Al-Ju’fi (Al-Bukhari) saja menempati tingkatan hadis shahih yang kedua.
  • Dan hadis shahih yang diriwayatkan oleh Muslim saja menempati tingkatan hadis shahih yang ketiga.
  • Lalu hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Al-Bukhari dan Muslim, menempati tingkatan hadis shahih yang keempat.
  • Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Al-Bukhari, menempati tingkatan hadis shahih yang kelima.
  • Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim) yang mengikuti syarat-syarat Muslim, menempati tingkatan hadis shahih yang keenam.
  • Selanjutnya hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain dua orang ini (selain Al-Bukhari dan Muslim), yang melingkupi syarat-syarat keshahihan selain dari syarat-syarat keduanya, menempati tingkatan hadis shahih yang ketujuh.[17]
    F.     Kitab-Kitab Shahih

Kitab-kitab hadis shahih adalah sebagai berikut:

  1. Shahih Al-Bukhari (w. 250 H), pertama kali penghimpun khusus hadis shahih. Di dalamnya terdapat 7.275 hadis termasuk yang terulang-ulang, atau 4.000 hadis tanpa terulang-ulang.
  2. Shahih Muslim (w. 261), di dalamnya terdapat 12.000 hadis termasuk yang terulang-ulang atau sekitar 4.000 hadis tanpa terulang-ulang. Secara umum hadis Al-Bukhari lebih shahih dari pada shahih Muslim, karena persyaratan shahih Al-Bukhari lebih ketat muttashil dan tsiqahnya sanad di samping terdapat kajian fikih yang tidak terdapat dalam shahih Muslim.
  3. Shahih Ibn Khuzaymah (w. 311 H)
  4. Shahih Ibn Hibban (w. 354 H)
  5. Mustadrak Al-Hakim (w. 405 H)
  6. Shahih Ibn As-Sakan
  7. Shahih Al-Albani.[18]

 

BAB III

PENUTUPAN

A.    Simpulan

Pembahasan makalah ini, hadis shahih menjelaskan hadis yang sesuai dengan syarat-syarat yang sudah di tentukan, berbagai hukum-hukum hadis shahih menimbulkan ketertiban dalam menanganinya, adanya pembagian dan tingkatan-tingkatan hadis shahih dapat membantu mengetahui kekuatan dan  kelemahan dalam hadis tersebut.

B.   Penutup

Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini, penulis berharap semoga bermanfaat bagi kita. Saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan selanjutnya, tak lupa di ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Madjid Khon, Ulumul Hadis, Hamzah, Jakarta, 2009

Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari,  Matan al-Bukhari bihasyiah as-Sindi, Jilid II

Al-Hafidz Ibnu Hajar, Nukhbatul Fikar, Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992 M

Fatchur Rahman, Mushthalahul Hadis, PT. Alma’arif –Penerbit-Percetakan Offset, Yogyakarta, 1970.

Kamaruddin Amin, Metodologi Para Ahli Hadis Klasik, PT. Mizan Publika, Jakarta, 2009

Mahmud ath-Thahhan, Taisir Mushalah al-Hadits, Dar ats-Tsaqafah al-Islamiyah, Beirut, t.t

Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits; ‘Ulumuh wa Musthalahuh, Dar al-Fikr, Beirut, 1989 M/1409 H

Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009.

Muhammad ash-Shabbaq, Al-Hadits an-Nabawi; Mushthalahuh Balagatuh, ‘Ulumuh, Khutub, Mansyurat al-Maktab al-Islami, t.t., 1392H/1972M

Muslim, Abu al-Husain bin al Hajjaj  al-Qusyairi an Naisaburi, Shahih Muslim,Jilid I,  Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992

Syaikh Manna Al-Qaththan,, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Terj. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2005

 


[1] Muhammad Alawi Al-Maliki., Ilmu Ushul Hadis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009. h. 52

[2]Al-Hafidz Ibnu Hajar, Nukhbatul Fikar, Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992 M, h. 73

 

[3]Abdul Madjid Khon, Ulumul Hadis, Hamzah, Jakarta, 2009, h. 149

[4] Kamaruddin Amin, Metodologi Para Ahli Hadis Klasik, PT. Mizan Publika, Jakarta, 2009., h. 21

[5]Ibid

[6] Muhammad Alawi Al-Maliki, op.cit, h. 53

[7]Ibid,

[8]Kamaruddin Amin, op.cit., h. 26

[9]Ibid

[10]Ibid, h. 34

[11]Abdul Madjid Khon, op.cit., h. 155

[12]ibid

[13] Muhammad Alawi Al-Maliki, op.cit, h. 54

 [14]Ibid, h.55

[15]Ibid, h. 56, lihat Muslim, Abu al-Husain bin al Hajjaj  al-Qusyairi an Naisaburi, Shahih Muslim,Jilid I,  Dar al-Fikr, Bairut, 1412 H/1992

[16]Ibid, h. 58

[17]Ibid, h. 58-59, lihat juga Abdul Madjid Khon, Ulumul Hadis,  h. 157-158

[18]Abdul Madjid Khon, op.cit, h. 158-159

Proposal Tesis

Standar

KETIDAKHARMONISAN SUAMI ISTRI

SEBAGAI PENYEBAB PERCERAIAN

(Studi Kasus di Kampung Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat)

 

 

PROPOSAL TESIS

 

 

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Metodologi Penelitian Hukum

 

 

 

Oleh :

 

Nama        : Kotamad Roji

NPM        : 1101652

 

 

 

Program Studi Hukum Keluarga

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

JURAI SIWO METRO

1433 H/2012 M


 

       I.            Latar Belakang Masalah

Syariat Islam mengatur hidup berpasangan dengan melalui jenjang perkawinan yang ketentuannya dirumuskan dengan wujud aturan-aturan yang disebut sebagai hukum perkawinan dalam Islam.

Dengan demikian perkawinan bertujuan untuk membentuk suatu kehidupan rumah tangga yang harmonis rukun damai dan sejahtera. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam pasal 1 Undang – Undang No. 1 Tahun 1974: “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.[1]

Menurut M. Idris Ramulyo pasal tersebut menjelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal yang pada prinsipnya untuk seumur hidup dan tidak boleh terjadi perceraian.[2]

Berdasarkan pasal di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kebahagian dan kekekalan suatu perkawinan bukanlah hanya skedar uji coba atau pelampiasan nafsu yang pada akhirnya akan berujung pada perceraian namun perkawinan adalah untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawadah dan ramah.

Keluarga merupakan unit pergaulan hidup yang terkecil dalam suatu masyarakat yang terdiri dari ayah atau suami, istri atau ibu, dan anak-anak. Hubungan antar individu di dalam keluarga umumnya didasarkan atas hubungan darah dalam perkawinan. Hubungan antar anggota dijiwai oleh suasana kasih sayang dan tanggung jawab. Keluarga mempunyai fungsi merawat, memelihara serta melindungi anak-anaknya dalam rangka sosialisasinya dengan masyarakat yang lebih luas.

Keluarga merupakan sebuah institusi sosial yang memainkan peranan yang besar dalam pewarisan nilai-nilai sosial dari individu kepada individu yang lain. Keluarga merupakan institusi sosial pertama dan utama yang akan melahirkan satu generasi yang baru sebagainpenerus generasi sebelumnnya.

Salah satu asas perkawinan yang disyariatkan adalah perkawinan untuk selama-lamanya yang diliputi oleh rasa kasih sayang dan saling cinta mencintai. Karena itu, agama Islam mengharamkan perkawinan yang tujuannya untuk sementara dalam waktu – waktu yang tertentu sekedar untuk melepaskan hawa nafsu saja, seperti nikah mut’ah, nikah muhallil, nikah muwaqqat dan sebagainya.

Dalam menjalankan kehidupan suami istri kemungkinan terjadi kesalahpahaman antara suami istri. Salah seorang atau kedua-duanya tidak melaksanakan kewajiban-kewajibannya, tidak percaya mempercayai dan sebagainya. Keadaan tersebut adakalanya dapat diatasi dan diselesaikan dan adakalanya tidak dapat diselesaikan dengan damai. Bahkan kadang-kadanng menimbulkan kebencian dan pertengkaran yang terus menerus antara suami dan istri. Apabila dalam kondisi tersebut perkawinan tetap dipertahankan maka tidak menutup kemungkinan akan  menimbulkan perceraian dan permusuhan diantara anggota keluarga lainnya.

Akan tetapi, dalam kenyataannya tujuan perkawinan tifdak terwujud secara utuh, hal ini disebabkan karena salah satu pihak di antara suami atau istri tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang telah ditentukan. Sehingga dapat menimbulkan perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga. Suami istri yang terlibat dalam perselisihan dan pertengkaran harus mengupayakan jalan penyelesaian secara damai dengan musyawarah. Apabila perselisihan tersebut tidak bisa didamaikan lagi maka jalan keluarnya adalah melakukan perceraian. Sedangkan keadaan keluarga yang demikian  menurut syariat Islam memberikan kemungkinan bagi kedua pasanngan untuk melaksanakan perceraian dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

Dengan demikian, apabila perkawianan seperti itu dilanjutkan, maka pembentukan rumah tangga yang damai dan tentram seperti yang disyariatkan oleh agama tidak tercapai, walaupun usaha-usaha untuk mencapai tujuan perkawinan tersebut telah dilaksanakan semaksimal mungkin.

Oleh karena itu, realitasnya banyak sekali adanya faktor – faktor tertentu yang timbul sebagai masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah dan berakhir pada perceraian. Faktor tersebut antara lain disebabkan adanya ketidak harmonisan pasangan suami istri.

Penceraian merupakan perbuatan yang terlarang dan sangat dibenci oleh Allah SWT namun di halalkan Nya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud sebagai berikut :

حدثنا كثير ابن عبيد حدثنا محمد ابن خالد عن معرف ابن واصل عن محارب دثار عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم : أبغض الحلال الى الله الطلاق (رواه ابو داود)[3]

Artiny: “Telah menceritakan kepada kami Kastir bin Ubaid, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Khalid dari Mu’arif bin Washil, dari Muharib bin Ditsar, dari Ibnu Umar Nabi SAW bersabda : Perkara halal yang palig dibenci Allah ‘Azza Wa Jalla adalah Talak”.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa talak merupakan perkara yang sangat dibenci Allah SWT namun meskipun demikan juga dihalalkan. Meskipun pencerian tidak dilarang akan tetapi penceraian dapat terjadi apabila perselisihan antara suami istri sudah tidak di damaikan dengan cara alasan – alasan apa pun seingga perkawinan tersebut sudah tidak dapat dipertahankan. Alasan – alasan tersebut tertuang dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 116 yaitu  perceraian dapat terjadi karena :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pamadat, penjudi dan lai sebagainya yang susuah disembuhkan
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lainnya selama 2 (dua) tahun berturut – turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuan.
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau istri.
  6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi oertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  7. Suami melanggar taklik talak.
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.[4]

Menurut pasal 116 Kompilasi Hukum Islam tersebut di jelaskan bahwa pada dasarnya peraturan perundang-undangan itu menganut prinsip untuk mempersulit terjadinya penceraian.Untuk mengajukan gugatan perceraian harus ada alasan yang dapat dijadikan dasar sebagai alasan perceraian. Apabila salah satu atau beberapa alasan tersebut tidak dapat terpenuhi maka gugatan cerai tidak dapat diajukan ke Pengadilan Agama.

Islam sangat berkeinginan agar kehidupan berumah tangga itu tentram dan terhindar dari keretakan, bahwa diharapkan dapat mencapai suasana pergauilan yang baik saling mencintai. Karenanya dalam Islam banyak hukum yang mengatur dalam maslah rumah tangga termasuk masalah perceraian atau talak. Pemegangan pada hak talak ada pada pihak laki-laki. Akan tetapi perempuan (istri) dapat menuntut cerai dari suaminya (dalam Islam dikenal dengan istilah khulu’) apabila suami adalah tukang mabuk, mencuri, lacur, penipu, tidak mengerjakan solat, menghina Islam dan sebagainya. Meskipun istri dapat menuntut cerai (khulu’) namun perceraian akan jatuh bila suami menjatuhkannya. Namun meskipun istri menuntut cerai akan tetapi bila suami belum menjatuhkan talak maka perceraian tersebut belum terjadi. Sebuah perceraian akan terjadi apabila suami yang menjatuhkannya yaitu dengan mengucapkan kata-kata cerai, baik secara sighat maupun terang-terangan. Jadi, cerai tidak akan jatuh apabila suami tidak berniat menceraikan istri meskipun istri menuntut cerai sampai berkali-kali. Hal ini disebabkan karena wewenang suami sebagai pemimpin keluarga. Sehingga suamin lebih berhak yang menjatuhkan cerai kepada istrinya.

Berdasarkan hasil pra survai yang telah dilakukan di kampung Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat, adalah adanya indikasi bahwa sebagai penyebab perceraian adalah ketidakharmonisan sumai istri dalam berumah tangga.

 

    II.            Identifikasi dan Batasan Masalah

  1. Identifikasi Masalah
    1. Berbagai problem kehidupan yang dialami oleh pasangan suami istri dapat menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga
    2. Ketidakharmonisan suami istri mengakibatkan perceraian dalam rumah tangga
  2. Batasan Masalah
    1. Faktor-faktor ketidakharmonisan suami istri diantaranya tentang nafkah, kekerasan atau pennganiayaan serta judi dan minuman keras.
    2. Suami dalam hal ini sebagai awal penyebab terjadinya ketidakharmonisan.
    3. Usaha penyelesaian masalah ketidakharmonisan dalam perceraian.

 III.            Rumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian di atas, maka permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasikan adanya ketidakharmonisan suami istri yang menyebabkan terjadinya perceraian?
  2. Bagaimana menganalisis proses penyelesaian ketidakharmonisan suami istri yang menyebabkan perceraian?

  IV.            Tujuan dan Kegunaan Penelitian

  1. Tujuan Penelitian

Sutrisno Hadi menyatakan bahwa “Research pada umumnya bertujuan menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan”.[5] Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui apakah ketidakharmonisan suami istri sebagai penyebab perceraian.
  2. Untuk menganalisis proses penyelesaian dalam ketidakharmonisan suami istri sebagai penyebab perceraian.
  3. Kegunaan Penelitian
    1. Penelitian ini berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang fikih munakahat dihubungkan dengan peraturan pemerintah yang berlaku atau ilmu-di bidang ilmu-ilmu yang lain.
    2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi dalam kehidupan rumah tangga, sehingga dapat meminimalisasikan perceraian khususnya dari dampak ketidakharmonisan suami istri dalam berumah tangga
    3. Dalam rangka memenuhi persyaratan tugas kuliah metodologi penelitian dalam bidang hukum keluarga

     V.            Kerangka Teori

Suami istri dalam mengarungi samudra kehiduapnnya ada kalanya mengalami perselisihan atau pertengkaran.Perselisihan atau pertengkaran ini ada yang hanya biasa berlaku sementara dan berakhir dengan damai dan rukun kembali namun ada juga yang berlaku terus menerus hingga akhirnya berakhir dengan perceraian.

 

  1. Pengertian Perceraian

Dalam istilah umum, perceraian adalah putusnya hubungan atau ikatan perkawinan antara suami dengan istri, sedangkan dalam syariat Islam perceraian disebut dengan talak. Talak menurut bahasa adalah pelepasan ikatan yang kokoh. Sedangkan meurut syara’ ialah pelepasan akad perkawinan.

Di bawah ini pendapat para ulama dalam mendefinisikan talak atau perceraian, yakni :

  1. Menurut Sayyid Sabiq, talak ialah pelepasan tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami istri.[6]
  2. Menurut Abdurrahman Al-jaziri, talak adalah hilangnya ikatan nikah atau mebatasi geraknya dengan kata-kata khusus, sedangkan makna izaalatun adalah hilangnya ikatan perkawinan sehingga tidak halal lagi suami bercampur dengan istri.[7]
  3. Menurut Al-Hamdani, talak adalah lepasnya ikatan prkawinan dan berakhirnya hubungan perkawinan.[8]

Dari beberapa pengertian tentang talak di atas, maka dapat dipahami bahwa perceraian (talak) adalah putusnya iakatan perkawinan antara suami istri sehingga antara keduanya tidak halal lagi bergaul sebagaimana layaknya suami istri

 

  1. Dasar Hukum Perceraian

Menurut dasar hukum perceraian undang-undang No 1 tahun 1974 dalam pasal 39 berbunyi :

  1. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
  2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami istri tidak dapat hidup rukun sebagai suami istri.
  3. Tata cara perceraian di depan sidang pengadilan diatur dalam peraturan perundangan sendiri.[9]

Dari pasal di atas dapat dipahami bahwa melakukan penceraian harus ada alasan yang kongrit dan hanya bias dilakukan di depan siding pengadilan, itu pun setelah Majelis Hakim telah berusaha mencari jalan damai dan ternyata tidak berhasil untuk mendamaikan kedua belah pihak.

  1. Faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakharmonisan suami istri

Pada prinsipnya dalam kehidupan berumah tangga hendaknya harus didasari dengan adanya rasa kasih sayang dan penuh kebersamaan serta saling melengkapi di antara keduanya. Disamping saling menjaga kehormatan rumah tangga, disisi lain harus ada rasa pengertian dan kerja sama dan komunikasi yang baik. Namun sebaliknya, jika kehidupan dalam berumah tangga sudah tidak lagi menjalankan hak dan kewajiban dan sudah tidak saling peduli, maka keharmonisan rumah tangga bisa terancam dan akhirnya berakhir dengan perceraian.

Faktor penyebab ketidakharmonisan suami istri dalam berumah tangga terbagi menjadi dua, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang muncul disebabkan dari dalam diri suami atau istri, misalnya faktor nafkah, kekerasan atau pennganiayaan dan seterusnya.Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang muncul disebabkan dari luar, misalnya faktor adanya Judi dan minuman keras dan seterusnya.

Berikut ini faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakharmonisan suami istri:

  1. Nafkah

Memberi nafkah kepada istri dan anaknya merupakan salah satu kewajiban suami.Pemberian nafkah dapat dikategorikan sebagi faktor ekonomi. Firma Allah swt :

Artinya : “Hendaklah orang yang mampu member nafkahmenurut kemampuannya dan orang yang disempatkan rezekinya hendaklah member nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”.(Ath Thalak: 7)

Ayat di atas menjelaskan tentang adanya hak belanja yang semestinya diperoleh istri dan penegasan kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan belanja sesuai dengan kemampuannya. Dalam menuntut belanja dari suaminya, seharusnya istri dapat melihat nilai tingkat kemampuan suaminya. Nafkah secara lahiriah terbagi menjadi dua yaitu nafkah berupa makan dan nafkah berupa pakaian atau sandang.

1)            Memberinya Makan

Memberi makan merupakan istilah lain dari memberi nafkah. Memberi makan ini telah diwajibkan ketika sang suami melaksanakan akad nikah, yaitu dalam bentuk mahar seperti yang tersurat dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 233, Allah berfirman :

Artinya : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” ( Al Baqarah : 233)

 

Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya selama masih dalam masa idahnya dan nafkah untuk mengurus anak-anaknya. Namun apabila hidupnya hanyalah pas-pasan saja maka hanya berkewajiban memberi nafkah menurut sekemampuannya.

Berdasarkan ayat ini pula, memberi nafkah kepada istri hukumnya adalah wajib. Sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan atau menggantungkan hidupnya kepada oranglain serta tidak boleh meminta-minta kepada orang lain untuk memberikan nafkah kepada istri dan anaknya. Sebagai kepala rumah tangga, seorang suami harus neniliki usaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuannya.

Perbuatan meminta-minta menurut Islam adalah perbuatan yang sangat hin a dan tercela. Burung saja yang diciptakan Allah ‘Azza wa Jalla tidak sesempurna manusia yang dilenngkapi dengan kemampuan berpikir dan tenaga yang jauh lebih besar, tidak pernah meminta-minta dalam mencari nafkah dan memenuhi kebutuhannya.  Dia terbang pada pagi hari dalam keadaan perutnya kosong dan kembali kesarangnya pada sore hari dengan perut yang telah kenyang. Demikianlah yang dilakukakannya setiap hari meski hanya berbekal dengan sayap dan paruhnya.

Seorang suami juga harus memperhatikan rizki-rizki yang halal dan tayibah untuk diberikan kepada istri dan anaknya. Bukan dengan cara-cara yang tercela dan dilarang oleh syariat Islam yang mulia. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menerima dari sesuatu yang haram. Didalam Al Quran Allah berfirman :

Artinya: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mukminun: 51)

 

Dan Allah Ta’ala berfirman :

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Al Baqarah: 172)

Nafkah yang diberikan sang suami kepada istrinya lebih besar nilainya di sisi Allah dibanding dengan harta yang di infakkan meskipun dijalan Allah atau di infakkan kepada orang miskin.

2)        Memberikan Pakaian

Seorang suami haruslah memberikan pakaian kepada istrinya sebagaimana suami berpakaian. Apabila suami menutup aurat maka istrinya pun harus menutup aurat. Hal ini menun jukan kewajiban setiap suami maupun istri untuk menutup aurat.

Selain dari pada itu, suami hendaknya menasehati istrinya dalam masalah pakaian sehingga istrinya tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan syariat dan menyempurnakannnya denngan pakaian terbaik menurut Islam. Hal ini agar istri tidak terjebak dengan istilah-istilah busana muslim yang modis dan trendi yang justru pada hakikatnya merupakan busana.

  1. Kekerasan atau penganiayaan

Perilaku kekerasan atau penganiayaan dalam rumah tangga bias saja terjadi. Penganiayaan meliputi penganiayaan bersifat lahiriyah dan penganiayaan bersifat batiniyah. Penganiayaan bersifat lahiriyah misalnya memukul dengan sebab-sebab tertentu dan lain sebagainya. Sedangkan penganiayaan bersifat batiniyah misalnya berbicara menyakitkan, mencaci-maki dan lain sebagainya.Perilaku kekerasan atau penganiayaan semacam ini tidak di perkenankan baik suami maupun istri di dalam kehidupan berumah tangga.

Sebagaimana telah diungkapkan oleh madzab Hanafi bahwa wanita mempunyai hak untuk mengadukan perkaranya kepada hakim agar meyuruh suaminya memperlakukan istrinya dengan baik.[10] Hal ini jika istri mengalami penganiayaan dari suaminya, baik berupa fisik maupun batin, ia berhak memperkarakan  kasus ini ke Pengadilan Agama. Hal ini sesuai dengan pendapat Imam Malik dan Ahmad, bahwa istri berhak menuntut kepada pengadilan agar menjatuhkan talak, jika ia beranggapan suaminya telah berbuat membahayakan diri. Sehingga tak sanggup lagi untuk melangsungkan pergaulan suami istri, seperti karena suka memukul atau menyakiti dengan cara apapun atau dengan memakinya atau menyuruh berbuat mungkar.[11]

1)        Penganiayaan Bersifat Lahiriyah

Di antara hak yang harus dipenuhi seorang suami kepada isterinya ialah tidak memukul wajah isterinya, meski terjadi perselisihan yang sangat dahsyat, misalnya karena si isteri telah berbuat durhaka kepada suaminya. Memukul wajah sang isteri adalah haram hukumnya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla.

 “Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[12], hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”([An-Nisaa’ : 34)

Dalam ayat ini, Allah membolehkan seorang suami memukul isterinya. Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang bolehnya memukul adalah harus terpenuhinya kaidah-kaidah sebagai berikut, yaitu:

  1. Setelah dinasihati, dipisahkan tempat tidurnya, namun tetap tidak mau kembali kepada syari’at Islam.
  2. Tidak diperbolehkan memukul wajahnya.
  3. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang menimbulkan bekas atau membahayakan isterinya.

Pukulannya pun pukulan yang tidak melukai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

Artinya : Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.”[13]

 

Pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada sebagian Shahabat yang memukul isterinya, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.Namun ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu mengadukan atas bertambah beraninya wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan rukhshah untuk memukul mereka. Para wanita berkumpul dan mengeluh dengan hal ini, kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.”[14]

2)        Penganiayaan Bersifat Batiniyah

Seorang suami telah memilih isterinya sebagai pendamping hidupnya, maka kewajiban dia untuk mendidik isterinya dengan baik.Setiap manusia tidak ada yang sempurna, sehingga adanya kekurangan dalam kehidupan berumah tangga merupakan sesuatu yang wajar saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Terkadang isteri memiliki kekurangan dalam satu sisi, dan suami pun memiliki kekurangan dari sisi yang lain. Tidak selayaknya melimpahkan tumpuan kesalahan tersebut seluruhnya kepada sang isteri. Contoh suatu ucapan yang dapat menyiggung perasaan sang istri misalnya “Semoga Allah menjelekkanmu” atau “Kamu dari keturunan yang jelek” atau yang lainnya yang menyakitkan hati sang isteri.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini juga telah bersabda:

Artinya : Tidak boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yang lain.”[15]

 

Seorang suami, sebagai kepala rumah tangga berkewajiban untuk membimbing dan mendidiknya dengan sabar sehingga dapat menjadi isteri yang shalihah dan dapat melayani suaminya dengan penuh keridhaan.

Apabila isteri salah, keliru atau melawan suami, maka sebaiknya dinasihati dengan cara yang baik, tidak boleh menjelek-jelekkannya, dan supaya dido’akan agar Allah memperbaiki dan menjadikan menjadi isteri yang shalihah.

  1. Judi dan Minuman Keras

Judi dan minuman keras merupakan perbuatan yang di haramkan oleh Islam dan wajib dijauhi oleh siapapun, termasul suami istri.Judi menyebabkan seseorang berbuat tidak jujur sedangkan minuman keras berpengaruh buruk dalam kesehatan serta sebagai induk dari semua kejahatan.Kedua perbuatan tersebut dapat merusak kebahagiaan rumah tangga dan sah dijadikan sebagai sebab perceraian. Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam antara lain menjelaskan bahwa perceraian dapat terjadi karena salah satu pihak berbuat zina, atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang susah disembuhkan.[16]

    VI.          Kerangka Pikir

 

 VII.          Metode Penelitian

  1. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini, dilakukan penelitian di Kampung Indraloka II Kecamatan Way kenanga Kabupaten Tulang Bawang.Adapun alasan penulis memilih lokasi tersebut karena sesuai dengan objek penelitian yang penulis lakukan. Di samping lokasi tersebut merupakan lokasi dimana penulis bertempat tinggal di kampung tersebut di sisi lain mengurangi kemungkinan-kemungkinan bila terjadi hambatan atau kendala di kemudian hari.

 

  1. Jenis Penelitian

Penelitian ini berbentuk eksploratif, menurut Suharsini Arikunto “dalam penelitian eksploratif peneliti ingin menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu”.[17]Maksudnya di dalam penelitian ini peneliti mempelajari secara intensif masalah munculnya ketidakharmonisan suami istri yang menyebabkan penceraian.

 

  1. Sifat Penelitian

Sesuai dengan judul penelitian penulis, yaitu sifat penelitian ini adalah deskriptif kualitatif karena penelitian ini berupa pengungkapan fakta yang ada yakni sesuatu penelitian berfokus pada usaha pengungkapan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya yang diteliiti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Sehingga dari uraian tersebut akan tergambar tentang munculnya ketidakharmonisan suami istri sebagai penyebab penceraian serta proses penyelesaiannya di Kampung Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat.

  1. Sumber Data

Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, maka sumber datanya adalah masalah-masalah yang muncul dari ketidakharmonisan suami istri di Kampung Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat serta hal-hal yang telibat dalam proses penyelesaian perceraian akibat ketidakharmonisan suami istri.

 

  1. Metode Pengumpulan Data

Sesuai dengan jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kasus lapangan. Maka dalam usaha pengumpulan data menggunakan field research (Penelitian Lapangan). Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian secara langsung ke daerah penelitian. Adapun metode yang digunakan adalah Metode observasi, interview

Metode Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis mengenai penomena sosial dan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.Metode ini digunakan untuk melakukan pengamatan secara langsung dilokasi penelitian untuk memperoleh data tentang faktor perceraian karena adanya ketidakharmonisan suami istri di Kampung Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Metode interview adalah mengadakan wawancara yang dilakukan secara sengaja kepada beberapa sumber yang berkenaan dengan faktor ketidakharmonisan suami istri menyebabkan perceraian di Kampung Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat.

 

  1. Metode Analisis Data

Di dalam analisis data, penulis menggunakan analisis kualitatif karena data yang diperoleh berasal dari literature yang ada di diperpustakaan dan dari peelitian lapangan yang kemudian ditarik suatu kesimpulan sebagai jawaban terhadap permasalahan.Maksud dari analisa kualitatif yaitu data yang diperoleh kemudian diuraikan sedemikian rupa disertai pembahasan dan kemudian hasil analisa tersebut dilaporkan dalam bentuk tesis.

Dalam menganalisa data tersebut, penulis menggunakan metode sebagai berikut :

1)             Metode Deduktif

Metode deduktif yaitu menarik suatu kesimpulan dari pertanyaan umum menuju pertanyaan khusus dengan menggunakan penalaran atau rasio (berfikir rasional).[18]Penulis menggunakan metode ini utuk memahami faktor perceraian karena tidak harmonisan suami istri di kampong Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat.

2)             Metode Induktif

Metode Induktif yaitu pengambilan kesimpulan dimulai dari pertanyaan atau fakta-fakta khusus menuju pada kesimpulan yang bersifat umum.[19]Hal ini dimulai dari pengumpulan data-data yang berkaitan dengan masalah yang menjadi pokok masalah bahasan dalam tesis ini, kemudian menyimpulkan penegrtiannya. Penulis menggunakan metode ini agar dengan mudah dan tepat menyimpulkan faktor ketidakharmonisan suami  istri menyebakan perceraian di kampong Indraloka II Kecamatan Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional, Logos, Jakarta

Departemen Agama RI, Kompilasi Hukum Islam, Dirjen Pembinaan dan Kelembagaan Islam, Jakarta, 1998

Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fikih Muslim Ibadah Mu’amalat, Alih Bahasa Zaid Husain Al-Sayyid Sabiq, Terjemah Fikih Sunnah, Jilid VIII, Al-Maa’arif, Bandung

M. Idris Ra,ulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1999

Nana Sudjana, Tuntunan Penyususnan Karya Ilmiah, Nakalah, Skripsi, Tesis, Distertasi, Sinar Baru, Bandung.

Suharmi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta

Sutrisno Hadi, Metodologi Reasearch, Jilid I, Ypgyakarta (UGM), tp, 1985

Zainal Abu Bakar, Kumpulan Peraturan Perudang-undangan dalam Lingkungan Peradilan Agama, Yayasan Al-Hikmah, Jakarta, 1993

 

RENCANA OUT LINE

HALAMAN SAMPUL DEPAN ……………………………………………………

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………

ABSTRAK ……………………………………………………………………………

PERSETUJUAN ……………………………………………………………………..

PENGESAHAN ……………………………………………………………………..

PERNYATAAN ORSINALITAS PENELITIAN ………………………………….

DAFTRA ISI …………………………………………………………………………

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………..
  2. Identifikasi dan Batasan Masalah ……………………………………………
  3. Rumusan Masalah ……………………………………………………………
  4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian …………………………………………….
  5. Kerangka Teori dan Kerangka Pikir …………………………………………

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Pengertian Penceraian ……………………………………………………….
  2. Dasar Hukum Penceraian ……………………………………………………
  3. Faktor Penyebab ketidakharmonisan suami istri ……………………………..

BAB III METODE PENELITIAN

  1. Lokasi penelitian …………………………………………………………….
  2. Jenis Penelitian ……………………………………………………………….
  3. Sifat Penelitian ……………………………………………………………….
  4. Sumber data ………………………………………………………………….
  5. Metode Pengumpulan Data ……………………………………………………
  6. Metode Analisis Data …………………………………………………………

BAB IV HASIL PENELITIAN

  1. Sejarah Umum Kampung Indraloka II ………………………………………
  2. Faktor-faktor ketidak harmonisan Suami Istri Penyebab Perceraian ………..
  3. Penyelesaian Masalah Perceraian di Kampung Indraloka II ………………..
  4. Analisis Tentang Perceraian akibat ketidakharmonisan suami Istri

di Kampung Indraloka II …………………..…………………………….…..

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan …………………………………………………………………..
  2. Saran …………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….

LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………………….

 

 

 


[1] Zainal Abu Bakar, Kumpulan Peraturan Perudang-undangan dalam Lingkungan Peradilan Agama, Yayasan Al-Hikmah, Jakarta, 1993, hal 3

[2] M. Idris Raulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hal 10

[3] Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’ats Al-Sajastani, Sunan Abu Daud Juz I, Darul Al-Fikri, tt, hal 500.

[4] Departemen Agama RI, Kompilasi Hukum Islam, Dirjen Pembinaan dan Kelembagaan Islam, Jakarta, 1998, hal. 56

[5] Sutrisno Hadi, Metodologi Reasearch Jilid I, Yogyakarta (UGM), tp, 1985, hal 3

[6] Sayyid Sabiq, Terjemah Fikih Sunnah, Jilid VIII, Al Ma’arif, Bandung, 1994, hal. 9

[7] Abdurrahman Al-Jaziri, Al Fiqh Al Mazahibul  Al Arba’ah, Kairo, 1980, hal. 278

[8] Al Hamdani, Risalah Nikah, Raja Murah, Pekalongan, 1980, hal. 166

[9]Undang-undang Pokok Perkawinan, Sinar Grafika, Jakarta, 2000, hal 12-13

[10] Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fikih Muslim Ibadah Mu’amalat, Alih Bahasa Zaid Husain Al-Hamid,Pustaka Amani, Jakarta 1999, hal 135

[11] Sayyid Sabiq, Terjemah Fikih Sunan, Jilid VIII, Al-Ma’arif, Bandung,  1994, hal. 87.

[12]Nusyuz yaitu meninggalkan kewajibannya selaku isteri, seperti meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya, dan lainnya.

[13]Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218 (147)), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.

[14]Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2146), Ibnu Majah (no. 1985), Ibnu Hibban (no. 1316 -al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/188), dari Sahabat Iyas bin ‘Abdillah bin Abi Dzubab radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

[15]Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1469), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

[16] Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional, Logos, Jakarta, 1999, hal. 175.

[17] Suharmi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hal 8.

[18] Nana Sudjana, Tuntunan Penyususnan Karya Ilmiah, Nakalah, Skripsi, Tesis, Distertasi, Sinar Baru, Bandung, tt, hal. 6.

[19]Ibid, hal 7.


Sejarah Lahirnya Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Standar

By Kotamad Roji

BAB I

PENDAHULUAN

Keluarga merupakan lembaga sosial bersifat universal, terdapat di semua lapisan dan kelompok masyarakat di dunia. Keluarga adalah miniatur masyarakat, bangsa dan negara. Keluarga terbentuk melalui perkawinan, ikatan antara kedua orang berlainan jenis dengan tujuan membentuk keluarga. Ikatan suami istri yang didasari niat ibadah diharapkan tumbuh berkembang menjadi keluarga (rumah tangga) bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan dapat menjadi masyarakat yang beriman, bertakwa, berilmu pengetahuan, teknologi dan berwawasan nusantara[1].

Keluarga merupakan lembaga sosial yang paling berat diterpa oleh arus globalisasi dan kehidupan modern. Dalam era globalisasi, kehidupan masyarakat cenderung materialistis, individualistis, kontrol sosial semakin lemah, hubungan suami istri semakin merenggang, hubungan anak dengan orang tua bergeser, kesakralan keluarga semakin menipis[2]. Untuk memelihara dan melindungi serta meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga tersebut disusunlah undang-undang yang mengatur perkawinan dan keluarga[3].

Telah lama umat Islam di Indonesia ingin memiliki hukum perkawinan tertulis. Keinginan ini sudah muncul pada masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan seterusnya sampai pada masa kemerdekaan. Harapan memiliki hukum perkawinan tertulis tersebut baru dapat terwujud pada awal tahun 1974, dengan disahkannya Undang-Undang No: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dalam makalah ini, Penulis akan mencoba untuk memaparkan sekilas tentang sejarah lahirnya undang-undang No: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut dan berbagai hal tentang poligami dan perceraian.

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Sejarah Undang-Undang No. 1 Tahun 1974

1.         Masa Kerajaan Islam di Indonesia

Hukum Islam sebagai hukum yang bersifat mandiri telah menjadi satu kenyataan yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Bahwa kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di Indonesia telah melaksanakan Hukum Islam dalam kekuasaannya masing-masing.

Pada abad ke 13 M, Kerajaan Samudra Pasei di Aceh Utara menganut hukum Islam Mazhab Syafi’i [4]. Kemudian pada abad ke 15 dan 16 M di pantai utara Jawa, terdapat Kerajaan Islam, seperti Kerajaan Demak, Jepara, Tuban, Gresik dan Ngampel[5]. Fungsi memelihara agama ditugaskan kepada penghulu dengan para pegawainya yang bertugas melayani kebutuhan masyarakat dalam bidang peribadatan dan segala urusan yang termasuk dalam hukum keluarga/perkawinan[6]. Sementara itu, di bagian timur Indonesia berdiri pula kerajaan-kerajaan Islam seperti Gowa, Ternate, Bima dan lain-lain. Masyarakat Islam di wilayah tersebut diperkirakan juga menganut hukum Islam Mazhab Syafi’i[7].

2.         Masa Penjajahan di Indonesia

Pada masa kedatangan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) di Indonesia, kedudukan hukum (keluarga) Islam telah ada di masyarakat sehingga pada saat itu diakui sepenuhnya oleh penguasa VOC. Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, Belanda menghimpun hukum Islam yang disebut dengan Compendium Freiyer, mengikuti nama penghimpunnya[8]. Kemudian membuat kumpulan hukum perkawinan dan kewarisan Islam untuk daerah Cirebon, Semarang, dan Makasar (Bone dan Gowa)[9]. Ketika pemerintahan VOC berakhir, politik penguasa kolonial berangsur-angsur berubah terhadap hukum Islam.

Pada Konggres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yokyakarta mengusulkan kepada Pemerintah Belanda agar segera disusun undang-undang perkawinan, namun mengalami hambatan dan mengganggu kekompakan dalam mengusir penjajah [10].

Pada permulaan tahun 1937 Pemerintahan Hindia Belanda menyusun rencana pendahuluan Ordonansi Perkawinan tercatat (onwerpordonnantie op de ingeschrevern huwelijken) dengan pokok-pokok isinya sebagai berikut: Perkawinan berdasarkan asas monogami dan perkawinan bubar karena salah satu pihak meninggal atau menghilang selama dua tahun serta perceraian yang diputuskan oleh hakim[11]. Menurut rencana rancangan ordonansi tersebut hanya diperuntukkan bagi golongan orang Indonesia yang beragama Islam dan yang beragama Hindu, Budha, Animis. Namun rancangan ordonansi tersebut di tolak oleh organisasi Islam karena isi ordonansi mengandung hal-hal yang bertentangan dengan hukum Islam.

3.         Masa Awal Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan, Pemerintah RI berusaha melakukan upaya perbaikan di bidang perkawinan dan keluarga melalui penetapan UU No: 22 Tahun 1946 mengenai Pencatatan Nikah, talak dan Rujuk bagi masyarakat beragama Islam. Dalam pelaksanaan Undang-Undang tersebut diterbitkan Instruksi Menteri Agama No: 4 tahun 1946 yang ditujukan untuk Pegawai Pencatat Nikah (PPN). Instruksi tersebut selain berisi tentang pelaksanaan UU No: 22 Tahun 1947 juga berisi tentang keharusan PPN berusaha mencegah perkawinan anak yang belum cukup umur, menerangkan kewajiban-kewajiban suami yang berpoligami, mengusahakan perdamaian bagi pasangan yang bermasalah, menjelaskan bekas suami terhadap bekas istri dan anak-anaknya apabila terpaksa bercerai, selama masa idah agar PPN mengusahakan pasangan yang bercerai untuk rujuk kembali[12].

Pada bulan Agustus 1950, Front Wanita dalam Parlemen, mendesak agar Pemerintah meninjau kembali peraturan perkawinan dan menyusun rencana undang-undang perkawinan. Maka akhirnya Menteri Agama membentuk Panitia Penyelidikan Peraturan Hukum Perkawinan, Talak dan Rujuk. Maka lahirlah Peraturan Pemerintah (PP) No: 19 tahun 1952 yang memungkinkan pemberian tunjangan pensiun bagi istri kedua, ketiga dan seterusnya[13].

Pada tanggal 6 Mei 1961, Menteri Kehakiman membentuk Lembaga Pembinaan Hukum Nasional yang secara mendalam mengajukan konsep RUU Perkawinan, sehingga pada tanggal 28 Mei 1962 Lembaga hukum ini mengeluarkan rekomendasi tentang asas-asas yang harus dijadikan prinsip dasar hukum perkawinan di Indonesia. Kemudian diseminarkan oleh lembaga hukum tersebut pada tahun 1963 bekerjasama dengan Persatuan Sarjana Hukum Indonesia bahwa pada dasarnya perkawinan di Indonesia adalah perkawinan monogami namun masih dimungkinkan adanya perkawinan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Serta merekomendasikan batas minimum usia calon pengantin[14].

4.         Masa Menjelang Kelahiran UU Perkawinan

Pada tahun 1973 Fraksi Katolik di Parlemen menolak rancangan UU Perkawinan yang berdasarkan Islam. Konsep RUU Perkawinan khusus umat Islam yang disusun pada tahun 1967 dan rancangan 1968 yang berfungsi sebagai Rancangan Undang Undang Pokok Perkawinan yang di dalamnya mencakup materi yang diatur dalam Rancangan tahun 1967. Akhirnya Pemerintah menarik kembali kedua rancangan dan mengajukan RUU Perkawinan yang baru pada tahun 1973[15].

Pada tanggal 22 Desember 1973, Menteri Agama mewakili Pemerintah membawa konsep RUU Perkawinan yang di setujui DPR menjadi Undang-Undang Perkawinan. Maka pada tanggal 2 Januari 1974, Presiden mengesahkan Undang-Undang tersebut dan diundangkan dalam Lembaran Negara No: 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari 1974.

B.       Poligami

Hukum perkawinan Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang terbaik dibanding dengan sistem-sistem hukum yang pernah ada. Sebagian besar Ulama berpendapat bahwa perkawinan yang ideal adalah perkawinan monogami. Kebolehan perkawinan poligami merupakan pintu “darurat” bagi suami yang “daruri”. Oleh sebab itu, para Ulama menyetujui penetapan syarat-syarat yang berat bagi laki-laki dalam berpoligami.

Perkawinan poligami yang tidak mengikuti prosedur dan tidak memenuhi syarat maka ditindak sebagai tindak pidana kejahatan dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun (Pasal 279 KUH Per). Bahkan menurut Prof. Soebekti, bahwa dalam kondisi apapun orang-orang yang pernah tunduk kepada hukum perkawinan yang menganut monogami mutlak, setelah diberlakukannya UU No: 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, maka tidak boleh mengambil istri kedua dan seterusnya. Pendapat Soebekti ini banyak dianut oleh para hakim dilingkungkan Pengadilan Negeri, seperti Hakim di Pengadilan Negeri Selong Lombok Timur NTB pada tahun 1976 yang mengenakan pasal 279 KUH Per dengan ancaman 5 tahun penjara bagi pelanggaran poligami non prosedural dan tidak memenuhi syarat. Namun penafsiran tersebut mendapat tantangan keras dari berbagai pihak, karena meletakkan atas monogami perkecualian yang dianut UU No: Tahun 1974 tentang Perkawinan serta UU No: 22 Tahun 1946 jo. UU No: 32 Tahun 1954.

Lahirnya UU Perkawinan merupakan hukum nasional. Pasal 66 UU No: 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam KUH Per, HOCI, Peraturan Perkawinan Campuran dan peraturan-peraturan lainnya yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam Undang-Undang ini, dinyatakan tidak berlaku. Dengan demikian berdasarkan pada Pasal 66 tersebut, maka jelas Soebekti tentang ketundukan penduduk kepada KUH Per tersebut kurang tepat.

C.      Perceraian

Perceraian merupakan salah satu ancaman dan gangguan terhadap kebahagiaan keluarga, perceraian dipandang sebagai bentuk kegagalan berkeluarga. Besarnya angka perceraian dapat dipakai sebagai indikator tentang besarnya keluarga yang tidak stabil yakni keluarga yang gagal. Untuk mengantisipasi dan godaan terhadap keutuhan keluarga, perlu dilakukan berbagai upaya pencegahan terjadinya perceraian. Salah satu asas UU No: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah mempersulit perceraian. Namun perlu disadari bahwa perceraian hanyalah tentang adanya ketidakharmonisan dalam hubungan suami istri sebagai gejala masalah dalam rumah tangga. Hukum tidak mampu menjangkau hal-hal yang bersifat batin. Hukum pada UU Perkawinan pada hanyalah akan menangani perceraian sepanjang kewenangannya.

Upaya mempersulit perceraian dalam UU No: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah dengan menetapkan syarat perceraian dengan dasar alasan-alasan tertentu dan diucapkan di depan sidang pengadilan. Alasan dan prosedur ini dituangkan dalam Pasal 39-40 UU No: 1 tahun 1974 jo. Pasal 19 PP No: 9 Tahun 1975 yaitu salah satu pihak atau kedua-duanya zina, pemabuk yang sukar disembuhkan, salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun tanpa izin, salah satu pihak mendapat hukuman 5 tahun atau lebih, salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berbahaya, salah satu pihak mendapat cacat badan sehingga tidak dapat melakukan fungsinya sebagai suami/istri, atau terus menerus menjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Keadaan persamaan hak perempuan dan laki-laki di Indonesia sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi perempuan di negeri-negeri Baraty yang menonjolkan emansipasi, women Liberation, hak asasi wanita dan sebagainya. Perjuangan para kaum perempuan di Indonesia saat ini tinggal meneruskan dan mengembangkan apa yang telah dimiliki, di samping memberikan tafsir baru terhadap ayat-ayat kitab-kitab suci dari agama yang ada, serta membuat rumusan fikih baru perempuan. Emansipasi dalam UU No: 1 tahun 1974 tentang Perkawinan itu dituangkan dalam rumusan asa persamaan hak dan kedudukan suami dan istri dalam kehidupan keluarga dan kehidupan bermasyarakat[16].

Kedudukan hak dan kedudukan antara suami dan istri dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat merupakan asas perkawinan yang diharapkan terwujud dalam setiap keluarga melalui pelaksanaan Undang-Undang No: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut. Keseimbangan hak dan kedudukan ini dapat dilihat melalui :

  1. Pelaksanaan Pasal 6 ayat (1) UU No. Tahun 1974 Perkawinan tentang kesepakatan pihak calon pengantin laki-laki dan pengantin perempuan untuk melangsungkan perkawinan. Pasal ini tidak berbeda dengan PAsal 28 KUH Per (untuk golongan Belanda dan Eropa) dan Pasal 3 staatsblad 1933 No: 74 (bagi pribumi beragama Kristen).
  2. Pembentukan dan pembagian harta bersama dalam perkawinan sebagai diatur dalam Pasal 35 s.d Pasal 37 UU No: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Isi pasal-pasal ini sedikit berbeda dengan Pasal 131-139 KUH Per. Kecenderungan pasangan-pasangan muda membuat perjanjian pemisahan harta dalam perkawinan dapat dipandang sebagai tanda keseimbangan hak dan kedudukan antara istri dan suami dalam keluarga dan di masyarakat. Di pihak lain, banyak pula yang berkomentar bahwa perbuatan perjanjian khusus tentang harta ini mecerminkan mulai berkurangnya rasa pengabdian dan pengorbanan (calon) suami dan (calon) istri terhadap keluarga yang akan dibentuknya.
  3. Kewenangan istri berbuat hukum. Seorang istri menurut Pasal 38 ayat (2) UU No: 1 Tahun 1974 tentang perkawinan bahwa seorang istri berwenang  mengelola harta pribadinya sendiri, istri juga bersama-sama dengnan suami berwenang mengelola harta bersama mereka. Kedudukan istri menurut UU Perkawinan ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan kedudukan istri menurut Pasal 142 KUH per. Namun demikian harus dikemukakan disini bahwa kemajuan prinsip ini belum dikembangkan sampai ke bidang-bidang lainnya, seperti hukum bisnis dan sejenisnya.
  4. Pertumbuhan jumlah erai yang diprakasai oleh istri (cerai gugat) disbandingkan dengan jumlah cerai talak yang merupakan pelaksanaan hak suami untuk menceraikan istri (cerai talak), merupakan indikator yang kuat bahwa telah terjadi kecenderungan semakin seimbangnya hak dan kedudukan istri dari suami baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat.

Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan justru memberikan keseimbangan hak dan kedudukan antara suami dan istri dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat dibandingkan hukum yang sebelumnya.

BAB III

KESIMPULAN

Perlu diketahui bahwa lahirnya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagai hukum Islam di Indonesia melalui proses yang cukup panjang dari masa sebelum masa kemerdekaan hingga kemerdekaan. Sehingga konsep undang-undang tersebut tidak terlepas dari berbagai pihak. Namun sebelum lahirnya Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkainan, hukum Islam di Indonesia telah muncul undang-undang lain tetapi kehadirannya mengalami pro dan kontra dari berbagai kalangan sehinggaperlu adanya berbagai perbaikan. Berangkat dari berbagai perbaikan undang-undang tersebut maka menjelmalah sebuah undang-undang yakni Undang-Undang Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Sementara dalam hal poligami, pada dasarnya hukum Islam di Indonesia tidak diperbolehkan namun dengan keterkecualian. Pemerintah melalui undang-undang telah berupaya untuk memberatkan poligami dengan berbagai syarat agar suami tidak beristri lebih dari satu. Persyaratan tersebut diharapkan dapat meminimalisasi poligami dalam masyarakat.

Sedangkan masalah perceraian dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan hak dan kedudukan antara suami istri meiliki kesamaan atau keseimbangan yakni istri bisa mengajukan cerai gugat. Meskipun hak cerai atau yang biasa disebut dengan cerai talak adalah hak suami namun istri dapat mengajukan cerai gugat dipengadilan.

 

DAFTAR PUSTAKA

                Amrullah Ahmad SF dkk, Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Gema Insani Press, 1996

Arso Sosroatmodjo dan A. Wait Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang

Deliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali, Bandung

Hamka, Sejarah Umat Islam Jilid II, Jakarta: Bulan Bintang, 1976

Indriaswari Dyah Saptaningrum, Sejarah UU No: 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pembakuan Peran Gender, dalam Perspektif Perempuan, Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Untuk Keadilan, 2000

Maria Ulfah Subadyo, Perjuangan Untuk Mencapai Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Yayasan Idayu, 1981

Mawarti Djoned Poesponegoro dkk, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III, Jakarta: Balai Pustaka Departemen Pendidikan dam Kebudayaan

Moh Zahid, Dua Puluh Lima Tahun Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan, Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggara Haji, 2003

Muhammad Daud Ali, Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia, dalam Pembangunan no 2 Tahun ke XII, Maret 1982

Nani Suwondo, Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum dan Masyarakat, Jakarta: Ghalia Indonesia

R. Soetedjo Prawirohamidjojo, Pluralisme Dalam Perundang-Undangan Perkawinan di Indonesia, Surabaya: Universitas Airlangga Press, 1988

Sajtipto Raharjo, Hukum dan Perubahan Sosial, Bandung: Alumni, 1979, hal. 146-147.

Soerjono Soekanto, Sosiologi Keluarga: Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak, Jakarta: Rineka Cipta, 1990

T.O.Ihromi, Bunga Rampai Sosiologi Keluarga, Jakarta: yayasan Obor Indonesia, 1999

 


                [1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Keluarga: Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak, Jakarta: Rineka Cipta, 1990, hal. 22-23.

                [2] T.O.Ihromi, Bunga Rampai Sosiologi Keluarga, Jakarta: yayasan Obor Indonesia, 1999, hal. 284-301.

                [3] Sajtipto Raharjo, Hukum dan Perubahan Sosial, Bandung: Alumni, 1979, hal. 146-147.

                [4] Hamka, Sejarah Umat Islam Jilid II, Jakarta: Bulan Bintang, 1976, hal. 53.

                [5] Hamka, I b i d, hal. 145-155.

[6] Amrullah Ahmad SF dkk, Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Gema Insani Press, 1996, hal. 70.

                [7] Mawarti Djoned Poesponegoro dkk, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III, Jakarta: Balai Pustaka Departemen Pendidikan dam Kebudayaan, 1984, hal. 197.

                [8] Arso Sosroatmodjo dan A. Wait Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang , 1975, hal. 11.

                [9] Muhammad Daud Ali, Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia, dalam Pembangunan no 2 Tahun ke XII, Maret 1982, hal. 101.

                [10] Maria Ulfah Subadyo, Perjuangan Untuk Mencapai Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Yayasan Idayu, 1981, hal. 9-10.

                [11] Nani Suwondo, Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum dan Masyarakat, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1992, hal. 77.

                [12]  Nani Suwondo, I b i d, hal. 78-79.

                [13] Indriaswari Dyah Saptaningrum, Sejarah UU No: 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pembakuan Peran Gender, dalam Perspektif Perempuan, Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Untuk Keadilan, 2000, hal. 53.

                [14]  R. Soetedjo Prawirohamidjojo, Pluralisme Dalam Perundang-Undangan Perkawinan di Indonesia, Surabaya: Universitas Airlangga Press, 1988, hal. 18.

                [15] Deliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali, Bandung, 1983, hal. 98.

                [16] Moh Zahid, Dua Puluh Lima Tahun Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan, Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggara Haji, 2003, hal. 36-38.

Peradaban Islam di Andalusia

Standar

By Kotamad Roji

BAB I
PENDAHULUAN

Setelah berakhirnya periode klasik Islam, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya.
Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.
Dalam makalah ini, penulis akan menguraikan perjalanan sejarah islam di spanyol mulai dari awal masuknya islam di spanyol, perkembangan islam di spanyol, kemajuan di bidang peradaban dan intelektual, faktor yang mendukung kemajuan, sampai pada kemunduran islam di spanyol.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Masuknya Islam Ke Spanyol

Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Spanyol sebelum kedatangan Islam dikenal dengan nama Iberia/ Asbania, kemudian disebut Andalusia, ketika negeri subur itu dikuasai bangsa Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalusia.
Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abd al-Malik mengangkat Hasan ibn Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn Nu’man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, dikawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gotik.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada diantara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penaklukan Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ seperti Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu). Kebudayaan islam memasuki Eropa melalui beberapa jalan, antara lain melewati Andalusia. Ini karena kaum muslimin telah menetap di negeri itu sekitar abad 8 abad lamanya. Pada masa itu kebudayaan Islam di negeri itu mencapai puncak perkembangannya. Kebudayaan Islam di Andalusia mengalami perkembangan yang pesat diberbagai pusatnya, misalnya Cordova, Sevilla, Granada, dan Toledo.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99 H/717 M, dengan sasarannya menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh ke Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternalnya antara lain pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan yang menyedihkan. Begitu juga dengan adanya perebutan kekuasaan di antara elite pemerintahan, adanya konflik umat beragama yang menghancurkan kerukunan dan toleransi di antara mereka. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, raja terakhir yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran Ghot adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhentikan begitu saja.
Adapun faktor internalnya yaitu suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh perjuangan dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

B. Perkembangan Islam Di Spanyol

Perkembangan politik di Spanyol tidak lepas dari beberapa aspek yang dapat mempengaruhinya diantaranya: ekonomi dan sosial. Dari pertama kali Islam menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya Islam disana, Islam memainkan peranan yang sangat besar, masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad sehingga masa ini dibagi menjadi beberapa periode.:

1. Periode Pertama (711-755 M)

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang terpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan antara Khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.
Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini sering kali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd al-Rahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
2. Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd al-Rahman al-Ausath, Muhammad ibn Abd al-Rahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad. Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik dibidang politik maupun bidang peradaban. Abd al-Rahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd al-Rahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.
Pemikiran filsafat juga mulai pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Ausath. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesahidan (Martyrdom). Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi Namun ada yang berpendapat pada periode ini dibagi menjadi dua yaitu masa KeAmiran (755-912) dan masa ke Khalifahan (912-1013).

3. Periode Ketiga (912-1013 M)

Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar Khalifah, penggunaan khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Muktadir, Khalifah daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilainnya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abd al-Rahman al-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd al-Rahman al-Nasir mendirikan universitas Cordova. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.

4. Periode Keempat (1013-1086 M)

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.

5. Periode Kelima (1086-1248 M)

Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Pada masa dinasti Murabithun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M.
Dinasti Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumazi (w.1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mun’im. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhhidun menyebabkan penguasanya memilih meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada peride ini yaitu antara tahun (1232-1492) ketika umat islam Andalus bertahan diwilayah Granada dibawah kuasa dinasti bani Amar. Pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad bin Yusuf bergelar Al-Nasr, oleh karena itu kerajaan itu disebut juga Nasriyyah.
Periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nasir. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam perebutan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaannya. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta. Tentu saja, Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan kedua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam didaerah ini.

C. Kemajuan Peradaban dan Kemajuan Intelektual

Spanyol adalah negara yang subur. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan) al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.

a) Filsafat

Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd al-Rahman (832-886 M).
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama yang kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asa, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Rusyd dari Cordova.

b) Sains

Abbas ibn Fama termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia orang yang pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umi al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidzh adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Bathuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudra Pasai dan Cina. Ibn Khaldun (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dart Tum adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol yang kemudian pindah ke Afrika.

c) Fikih

Dalam bidang fikih, Spanyol dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini disana adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pad masa Hisyam ibn Abd al- Rahman. Ahli-ahli fikih lainnya yaitu Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal. Sedillot berkata, “Mazhab Maliki itulah yang secara khusus memikat pandangan kita karena hubungan kita dengan bangsa Arab Afrika. Pada waktu itu pemerintah Prancis menugaskan Dr. Peron untuk menerjemahkan buku Fiqh Al Mukhtashar karya Al Khalik bin Ishaq bin Ya’qub (w. 1422 M).

d) Musik dan Kesenian

Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Setiap kali diadakan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai pengubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.

e) Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Diantara para ahli yang mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa yaitu Ibn Sayyidih, Ibn malik pengarang Alfiyah, Ibn Huruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Gharnathi.

f) Kemegahan Pembangunan Fisik

Orang-orang memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air waduk dibuat untuk konservasi. Pengaturan hydrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air asal Persia yang dinamakan na’urah (Spanyol Noria). Namun pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, taman-taman. Di antara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota al-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, mesjid Seville dan istana al-Hamra di Granada.

D. Faktor-faktor Pendukung Kemajuan

Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir.
Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah dan adanya toleransi yang ditegakkan oleh penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi.

E. Penyebab Kemunduran Dan Kehancuran

1. Konflik Islam dan Kristen

Kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen, sehingga kehidupan negara Islam tidak pernah sepi dari pertentangan antara Islam dan Kristen.

2. Tidak adanya ideologi pemersatu

Di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orangorang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Mereka masih member istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan yang dianggap merendahkan.

3. Kesulitan ekonomi

Pada paruh kedua masa Islam di Spanyol, Para menguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina perekonomian.

4. Tidak jelasnya sistem peralihan pemerintahan

Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris.

5. Keterpencilan

Spanyol Islam terpencil dari Dunia Islam yang lain. Ia berjuang sendirian tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan di sana.

F. Pengaruh Peradaban Spanyol Islam Di Eropa

Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antarnegara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangga Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik.
Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklaerung) pada abad ke-18 M.

BAB III
KESIMPULAN

Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Wilayah Andalusia yang sekarang disebut dengan Spanyol diujung selatan benua Eropa, masuk kedalam kekuasaan dinasti bani Umayah semenjak Tariq bin Ziyad, bawahan Musa bin Nushair gubernur Qairuwan, mengalahkan pasukan Spanyol pimpinan Roderik Raja bangsa Gothia (92 H/ 711 M). Spanyol diduduki umat islam pada zaman kholifah Al-Walid (705-715), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus.
Perkembangan Islam di Spanyol berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Perkembangan itu dibagi menjadi enam periode yaitu: Periode Pertama (711-755 M), Periode Kedua (755-912 M), Periode Ketiga (912-1013 M), Periode Keempat (1013-1086 M), Periode Kelima (1086-1248 M), dan Periode Keenam (1248-1492 M).
Kemajuan peradaban itu dipengaruhi oleh kemajuan intelektual yang di dalamnya terdapat ilmu filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, begitu juga dengan bahasa dan sastra, dan kemegahan pembangunan fisik. Faktor-faktor pendukung kemajuan Spanyol Islam, diantaranya kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah dan adanya toleransi yang ditegakkan oleh penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi.
Kemunduran dan kehancuran Islam di Spanyol antara lain, konflik Islam dengan Kristen,tidak adanya Ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan keterpencilan.

DAFTAR PUSTAKA
Mustafa As-Siba’i, Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok. Gema Insani Press, Jakarta : 1993

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : PT Gravindo Persada : 2003
Katalog Dalam Terbitan (KDT), Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebuidayaan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta 1996

Majid Mun’im Abdul, Sejarah Kebudayaan Islam, Pustaka : 1997
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT), Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta 1996.

Sunanto Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Jakarta, Penada Media: 2003